Hamas Bebaskan 3 Sandera Lagi dalam Gencatan Senjata dengan Israel

  • Whatsapp
Ofer Kalderon, warga Israel yang disandera Hamas di Gaza sejak 7 Oktober 2023, melambaikan tangan sebelum Hamas menyerahkannya ke pihak Palang Merah di Khan Younis, Gaza selatan, 1 Februari 2025. (Foto: AP)
Orang-orang duduk mengelilingi meja yang didirikan di atas reruntuhan rumah mereka yang hancur selama perang baru-baru ini antara Israel dan Hizbullah, di desa al Jibbain di Lebanon selatan, pada 31 Januari 2025. (Foto: AFP)
Orang-orang duduk mengelilingi meja yang didirikan di atas reruntuhan rumah mereka yang hancur selama perang baru-baru ini antara Israel dan Hizbullah, di desa al Jibbain di Lebanon selatan, pada 31 Januari 2025. (Foto: AFP)

Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata yang ditengahi Amerika yang diumumkan pada 27 November, pasukan Israel harus mundur dari Lebanon selatan, dan kelompok militan Hizbullah harus bergerak ke utara Sungai Litani paling lambat 26 Januari. Seperti Hamas, Washington juga memasukkan Hizbullah sebagai organisasi teroris.

Pasukan Israel tetap berada di lebih dari sejumlah desa setelah batas waktu yang ditentukan. Pada Minggu, Amerika Serikat dan Lebanon mengumumkan bahwa batas waktu untuk memenuhi persyaratan gencatan senjata telah diperpanjang hingga 18 Februari.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sejak gencatan senjata dimulai, Israel hampir setiap hari melancarkan operasi di Lebanon selatan, termasuk serangan udara dan penembakan. Israel menuding Hizbullah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan mencoba memindahkan senjata.

Dalam pernyataan yang diunggah di akun media sosialnya, Pasukan Pertahanan Israel atau IDF melaporkan pada Kamis malam bahwa jet tempurnya melakukan beberapa serangan terhadap apa yang disebutnya sebagai target Hizbullah di wilayah Bekaa, Lebanon, yang dianggap “menimbulkan ancaman bagi garis depan Israel dan pasukan IDF.”

Pernyataan IDF itu menyebutkan bahwa target tersebut meliputi lokasi militer “dengan infrastruktur bawah tanah untuk pengembangan dan produksi senjata, serta infrastruktur transit di perbatasan Suriah-Lebanon.” IDF mengatakan tempat itu digunakan Hizbullah untuk mengirim senjata.

IDF juga melaporkan pada Jumat bahwa unit tempur elit Sayeret Haruv menggelar operasi selama sembilan hari terakhir untuk “menggagalkan terorisme” di kamp pengungsi Jenin, Tepi Barat.

Dalam laporannya di situs web, IDF menyebutkan bahwa tentara mereka berhasil “mengalahkan teroris dalam bentrokan dan menangkap sejumlah orang. Mereka juga menemukan senjata, mengungkap, dan menghancurkan lebih dari lima laboratorium bom.” Unit Sayeret Haruv fokus pada operasi di Tepi Barat dan Gaza. [Red]#VOA