Yang lebih menyedihkan, kata Gina, 95% korban adalah perempuan.
Dari 982 aduan dan 1.361 tersangka pelaku yang ditangkap, diketahui bahwa korban TPPO didominasi oleh mereka yang hanya mengenyam pendidikan hingga SD (33%), SMP (33%), SMA (11%), dan tidak menyelesaikan pendidikan (22%).
Migrant Care: Pelaku Mulai Merambah ke Pendidikan Tinggi
Direktur Eksekutif Migrant Care Wahyu Susilo mengatakan situasi minimnya lapangan kerja, terutama pasca perebakan luas Covid-19, telah dimanfaatkan oleh sindikat perdagangan orang untuk menjerat korban. Pelaku kini mulai merambah ke pendidikan tinggi yang sangat segera ingin bekerja dan mudah diiming-imingi.
“Kita koar-koar soal teknologi digital, Gen Z, dan lainnya. Data BPS melansir ada 9 juta Gen Z menganggur. Ini fakta soal bonus demografi yang justru menjadi ironi. Kalau selama ini korban TPPO itu miskin, dari pedesaan, pendidikan rendah; kini korban berasal dari perkotaan, secara ekonomi bukan miskin, educated, lulusan sarjana dari kampus, dan lainnya. Ini ironi!,” tukasnya.









