Modus dan korban yang menjadi sasaran Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) kini bergeser. Generasi Z yang melek digital tetapi tidak punya atau belum punya pekerjaan – dan perempuan – menjadi sasaran utama para pelaku.
| DN – Anda tentu masih ingat kasus ribuan mahasiswa Indonesia yang menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) bulan Mei lalu khan? Bareskrim Mabes Polri mengatakan sedikitnya 1.047 mahasiswa dari 33 kampus di seluruh Indonesia yang sangat ingin memiliki pengalaman kerja di luar negeri, tergiur janji dua perusahaan rekrutmen yang masuk kampus untuk mensosialisasikan program magang Merdeka Belajar – Kampus Merdeka (MBKM).Sebagian korban mengatakan kepada polisi bahwa “Ferienjob” – nama program itu – semula berjanji akan menempatkan para mahasiswa ini untuk belajar bahasa asing dan bekerja sesuai bidang studi, yang kemudian akan dikonversi menjadi 21 SKS. Tetapi faktanya mereka ditempatkan sebagai buruh di perusahaan logistik, kargo, restoran, sortir buah, pengelolaan sampah dan bahkan kuli bangunan.
Berbicara dalam diskusi publik “Menuntut Hak atas Pemulihan Bagi Korban TPPO” Rabu lalu (3/7), Sekjen Perhimpunan Bantuan Hukum dan HAM Indonesia (PBHI) Gina Sabrina mengatakan jika semula korban TPPO adalah warga miskin dan berpendidikan rendah, kasus “Ferienjob” membuka mata banyak kalangan.
“Terakhir, kasus praktik pemagangan di Jerman, FerienJob, kalau masih ingat itu salah satu modus yang mematahkan analisa deretan kasus TPPO selama ini. Ferienjob mengeksploitasi mahasiswa bermodus magang, namun bekerja tidak sesuai keahlian pendidikan yang dimiliki. Menjerat semua kalangan akademisi perguruan tinggi. Kita perlu mewaspadai taktik dan strategi jaringan TPPO agar bisa diungkap dan diberantas.”









