“Takut nanti anaknya lebih pintar dari kita, kan? Kita takut nanti [kita] yang dibobodo (dikelabui, red.),” ujar Vinda, ibu rumah tangga Gen Millenial yang bermukim di Bandung.
Nada yang lebih optimistis disuarakan Windi Rahmanita, teman Vinda yang juga sedang menantikan kelahiran buah hatinya tahun ini.
“Syukurnya kita juga udah terbiasa dengan teknologi. Jadi excited sih dan lebih banyak melihat sisi positifnya aja untuk nanti perkembangan anak, ‘Oh [AI] ini akan lebih banyak membantu,’ gitu,” ungkap Windi, mantan wartawan yang kini berbisnis di kota kembang.
Windi dan, terutama, suaminya telah terbiasa memanfaatkan ChatGPT, teknologi AI generatif, untuk beberapa bisnis yang suaminya kelola. Ia melihat AI sebagai alat yang juga bisa digunakan untuk mangasah dan mematangkan potensi anak-anak mereka.
Meski demikian, ia juga memiliki kekhawatiran tersendiri mengenai teknologi tersebut.
“Lebih khawatir anak jadi lebih banyak interaksinya dengan gadget dibandingkan dengan interaksi sosial,” imbuhnya.
Selain itu, Windi juga mengkhawatirkan masalah etika dan adab pada era AI.
Tanggung Jawab Semua
Peneliti di Center for Digital Society (CfDS) Fisipol UGM, Yogyakarta, Bangkit Adhi Wiguna mengatakan, kehadiran AI dengan pertumbuhannya yang eksponensial patut disikapi dengan penerimaan sekaligus kewaspadaan.
Dengan segudang manfaat yang ditawarkan di berbagai aspek, dari urusan kesehatan, keuangan, pendidikan, hingga keamanan, AI juga sarat sentimen bias, yang bisa berujung pada tindak diskriminasi. Selain itu, kecerdasan buatan menimbulkan ancaman terhadap ketenagakerjaan, keamanan data pribadi, kreativitas, hingga disinformasi.
“Ada pesimisme yang memang harus kita ambil, kita harus skeptis, tapi juga ada optimisme,” kata Bangkit.










