Sementara itu, melalui keterangan tertulis, pakar geologi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Amien Widodo, menyebut gempa tektonik akibat sesar aktif ini merupakan peristiwa yang jarang terjadi. Pergeseran dan tekanan dari dua permukaan laut Jawa ini menimbulkan getaran dengan skala Modified Mercalli Intensity (MMI) III-IV. Intensitas itu dapat mengakibatkan guncangan dan retakan pada daerah permukaan.
Amien mengingatkan keterangan Pusat Studi Gempa Nasional terkait adanya 295 sesar aktif di Indonesia yang berpotensi menimbulkan gempa, yang katanya harus dapat diantisipasi pemerintah daerah dengan melakukan pemeriksaan kondisi bangunan, permukaan, dan sejenisnya. Masyarakat pun diimbau mempersiapkan diri bila terjadi gempa susulan.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengatakan gempa yang ketiga yang terjadi dalam empat jam terakhir, dirasakan di Blora, Surabaya, Mojokerto, Malang, Lumajang, Nganjuk, Yogyakarta, Pasuruan, Jepara, Rembang, Demak, Kudus, Semarang, Pacitan, Trenggalek, Blitar, Solo, Sleman, Kulonprogo, Kebuman, Temanggung, Madura, dan Gresik.
Gempa juga dirasakan di kota-kota lain di luar Pulau Jawa, antara lain Banjarbaru, Sampit, Banjarmasin, Martapura, Balikpapan, dan Palangkaraya.








