‘Food Diplomacy’, Mempromosikan Budaya Indonesia Lewat Kuliner

  • Whatsapp
Chef Ragil Imam Wibowo di Ubud Festival. (Foto: Dok Pribadi)

“Ayam goreng! Ayam goreng Indonesia ini cukup signifikan karena dengan cara masaknya yang mungkin di negara lain tidak sama, jadi harus dimasak dengan menggunakan air kelapa dulu, kemudian dengan bumbu dan rempah-rempah yang luar biasa sehat buat tubuh, baru setelah itu digoreng. Dan inipun sebenarnya sudah mendapatkan legitimasi dari salah seorang food critic dari Amerika Jonathan Gold (Los Angeles Times) yang bilang bahwa ayam goreng Indonesia itu adalah one of the best fried chicken in the world,” katanya.

Menggunakan Bahan Lokal

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Chef William dan Chef Ragil mengatakan salah satu tantangan terbesar dalam misi food diplomacy di luar negeri adalah beradaptasi dengan keterbatasan bahan-bahan yang tersedia di negara tersebut. Bersama tim juru masak yang dibawa, mereka harus mampu berimprovisasi dengan menggunakan bahan-bahan lokal, dan kemudian menyesuaikan rasa masakan dengan selera lokal.

Penjual mempersiapkan gudeg di stan masakan khas Jawa dalam acara Indonesia Culinary Festival KJRI Houston, Texas.

Chef William mengatakan, setiap kali mempromosikan makanan Indonesia ke suatu negara, ia bersama tim kulinernya selalu membawa bumbu-bumbu yang popular dari Indonesia. Ia mempelajari dulu budaya kuliner negara tujuan lalu mencoba memadukan dengan memasak bahan-bahan yang ada di lokasi, atau di tempat tujuan, dengan bumbu-bumbu Indonesia.

“Contohnya di Afrika, di Namibia, saya tidak meminta daging sapi, saya minta di supply segala jenis daging dari binatang liar. Di situ saya membumbui daging-daging binatang liar itu dengan bumbu Indonesia dan menyajikan masakan Indonesia dengan bahan lokal,” ujar Chef Willia.

Ia menambahkan bahwa hal itu akan memberi kejutan kepada warga lokal karena mereka merasakan bahan makanan yang sudah dikenal, tetapi mendapat cita rasa baru setelah dipadukan dengan bumbu Indonesia. Ini merupakan kiat yang menurut Chef William harus dilakukan ketika tidak bisa selalu membawa bahan-bahan segar dari Indonesia. Ia dan tim harus menyesuaikan diri dan memasak dengan bahan-bahan setempat.

Ragil melakukan hal yang sama. “Mengenal dan mencari bahan-bahan lokal untuk digunakan dalam masakan, justru memberi semangat,” kata chef yang pernah ke Chile, Prancis, Amerika, Jerman, Swiss dan Ukraina untuk diplomasi kuliner.

“Ketika makanan Indonesia bisa dikombinasi dengan bahan-bahan yang ada di sana, orang-orang asli negara tersebut akan lebih appreciate bahwa makanan Indonesia itu tidak harus seratus persen menggunakan semua bahan dari Indonesia, tetapi bisa menggunakan sebagian bahan segar lokal. Kita tetap membawa satu bumbu utama, bumbu yang sudah dihaluskan dan sudah jadi, tetapi jika kita mau menyajikan protein atau karbohidrat (makanan pokok) itu bisa diganti di sana,” kata Chef Ragil.

Dalam sebuah acara promosi budaya di Baltimore belum lama ini, Chargé d’Affaires KBRI Sade Bimantara mengatakan bahwa food diplomacy dapat membuka dan mempermudah usaha diplomasi selanjutnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *