Awalnya Kelompok Tani yang terlibat menyiapkan lahan dengan cara membersihkan lahan dari rumput liar dan gulma, kemudian mengolah dan menggempurkan tanah untuk memudahkan akar jagung tumbuh. Selanjutnya melakukan penanaman, dengan pemilihan bibit jagung yang berkualitas tinggi dan sehat dipilih untuk memastikan hasil panen yang baik.
Bibit ditanam dengan jarak tanam sesuai anjuran, untuk memaksimalkan pertumbuhan dan penyerapan nutrisi. Dan dilakukan penyiraman secara teratur, terutama pada awal pertumbuhan. Tidak lupa, pemberian pupuk dengan jenis dan dosis yang tepat dilakukan secara bertahap, disesuaikan dengan kebutuhan tanaman pada setiap fase pertumbuhan.
Para petani juga melakukan pemantauan dan pengendalian hama/penyakit, secara rutin untuk mencegah penurunan hasil panen, juga menyiangi rumput liar dan gulma secara berkala untuk mencegah persaingan nutrisi dengan tanaman jagung.
Setelah jagung mencapai kematangan fisiologis, yaitu sekitar 80-110 hari setelah tanam, maka jagung siap dipanen dengan cara manual yaitu memetik tongkol jagung dari tanamannya.
“Ciri-ciri jagung siap panen antara lain, biji sudah mengeras, warna biji sudah berubah menjadi kuning keemasan, dan kadar air biji sudah turun. Petani dibantu anggota polisi dalam proses pemanenan ini,” lanjut Kapolres Ngawi.
Dari lahan jagung di Desa Sumberbening Kecamatan Bringin Kabupaten Ngawi seluas 40 hektar, estimasi hasil panennya adalah 220 ton.








