Didit menjelaskan sebagian besar lahan yang digunakan untuk proyek food estate adalah lahan gambut, yang memiliki satu setengah kali lipat CO2 (karbon dioksida) dibanding lahan biasa.
“Ketika itu dibuka dia akan melepas satu setengah lebih besar emisi ke udara, dan itu yang kita hadapi sekarang. Jadi kita mengalami kerugian ekologis akibat pembukaan lahan tersebu. Dan kita juga mengalami kerugian di faktor lain,” tambahnya.
Selain itu, tambahnya hasil singkong yang dihasilkan pada proyek tersebut berkualitas rendah.
Jika pemerintah ingin mendorong ketahanan pangan lanjut Didit dapat melakukan insentifikasi lahan pertanian yang ada di wilayah-wilayah yang sudah ada di Indonesia dan bukan malah membuka lahan baru.
Menurutnya sisa hutan yang ada di Indonesia dan dunia semakin kritis. Salah satu penyebabnya adalah pembukaan lahan untuk berbagai kepentingan. Kritisnya kondisi hutan ini ujar Didit akan memperparah dampak dari krisis iklim karena meningkatnya CO2 yang ada di atmosfer.
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, Erwin Aksa mengatakan food estate merupakan salah satu bagian untuk membangun ketahanan pangan.
Masyarakat harus memahami, kata Erwin, bahwa Indonesia baru saja bangkit dari pandemi, di mana selama dua tahun terakhir, pemikiran semua orang termasuk pemerintah adalah soal kesehatan.
Prabowo juga mencetuskan gagasan membuat sentra singkong di sejumlah daerah. Salah satu yang dipilih adalah kabupaten Gunung Mas, Provinsi Kalimantan Tengah.
Prabowo menjanjikan pusat produksi sekaligus industri singkong terpadu di wilayah itu. Singkong menjadi pilihan karena dianggap merupakan tanaman yang mudah ditanam sekaligus sumber pangan pokok alternatif beras. [Red]#VOA








