“Jadi solutifnya demikian. Dan yang paling penting dalam preventif adalah makan bergizi untuk anak-anak dan ibu-ibu melahirkan. Makan bergizi ini meningkatkan daya tahan, imunitas dan mencegah penyakit,” ujarnya.
Pengamat: Revitalisasi Puskesmas sebagai Ujung Tombak Kesehatan
Pengamat kesehatan yang juga seorang dokter, Handrawan Nadesul, menilai jawaban para capres mengenai rendahnya harapan hidup warga Indonesia itu masih bersifat normatif. Hal paling penting dan segera yang dibutuhkan warga Indonesia untuk meningkatkan angka harapan hidup – dan kualitas hidup – adalah revitalisasi puskesmas. Ini adalah ujung tombak kesehatan, ujarnya.
Sebenarnya pembangunan kesehatan Indonesia sejak awal, tambahnya, adalah preventif-promotif, namun implementasinya di lapangan ternyata lebih kuratif karena memang dokter lebih sibuk melayani seolah puskesmas programnya hanya kuratif.
Ditambahkannya, berapapun anggaran kesehatan yang dialokasikan, tidak akan meningkatkan derajat kesehatan jika orientasi program-programnya bukan soal preventif-promotif.
Banyak puskesmas sekarang, kata Nadesul, yang tidak ada dokternya. Dia lebih setuju kepala puskesmas tidak harus dokter tetapi berasal dari Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) karena Puskemas lebih menjalankan fungsi manajerial bukan medis. “Bagaimana me-manage supaya masyarakat itu sehat,” ujarnya.
Nadesul juga menyoroti rendahnya gaji para dokter di puskesmas, sehingga mereka harus mencari “tambahan” di mana-mana untuk mencukupi kebutuhan hidup.
Guna mempercepat penyuluhan kesehatan nasional, Nadesul mengusulkan untuk mengaktifkan kembali fungsi radio. Pemerintah berkewajiban mendidik warga, dan radio bisa menjadi salah satu piranti yang paling efektif. “Edukasi penyakit-penyakit tropis, penyakit yang bisa dicegah – seperti cacingan, TBC, demam berdarah, tipus, dll – dapat dilakukan lewat penyuluhan. Masyarakat membutuhkan penyuluhan-penyuluhan ini supaya tidak jatuh sakit,” ujarnya.
Badan Kesehatan Dunia (WHO) menempatkan Indonesia di peringkat 92 daftar negara dengan tingkat kesehatan terbaik. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, Indonesia sedianya membutuhkan 270.000 dokter, tetapi saat ini hanya tersedia 110.000 dokter. Anggaran kesehatan Indonesia adalah 2,9% dari GDP, atau berarti salah satu yang terendah di dunia. Pemerintah Indonesia telah menerapkan skema jaminan kesehatan yang baru, meskipun ada pembatasan untuk jenis penyakit dan layanan kesehatan yang dapat diberikan.
Data di Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan umur harapan hidup Indonesia terus meningkat dari 2019 hingga 2022. Pada 2022, umur harapan hidup Indonesia untuk laki-laki adalah 69,93 tahun; sementara perempuan lebih tinggi yakni 73,83 tahun.
Namun, angka BPS itu berbanding terbalik dengan data Global Health Observatory Data Repository dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan usia masyarakat Indonesia pada tahun 2022 semakin pendek, bila dibandingkan dengan 2010, dari 68,5% turun menjadi 67,6%. Jika merujuk data WHO Itu maka rata-rata usia warga Indonesia pada tahun 2022 adalah 67,6 tahun atau berartu turun 0,9 tahun dibanding tahun 2010. [Red]#VOA








