Cuaca Ekstrem Mengancam Hasil Panen Tembakau Lamongan, Petani Tetap Optimis

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN – Memasuki pertengahan Agustus, para petani tembakau di Kabupaten Lamongan mulai bersiap menghadapi musim panen raya. Di tengah kesibukan menyiapkan sarana pemotongan (perajangan) hingga tempat penjemuran daun tembakau, para petani justru dihadapkan pada dua tantangan berat sekaligus: ketidakpastian harga dari pihak pabrikan dan ancaman cuaca ekstrem.

Berdasarkan data lokal, komoditas tembakau di Kabupaten Lamongan saat ini membentang di atas lahan seluas kurang lebih 9.500 hektare. Meski semangat petani untuk menghasilkan tembakau rajang bermutu tinggi cukup besar, sebagian besar dari mereka kini dibayangi kecemasan. Pasalnya, hingga menjelang petik daun, sejumlah perusahaan atau pabrik pembeli skala besar belum juga menetapkan standar harga minimal.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tantangan tak berhenti di persoalan tata niaga. Faktor alam turut memperkeruh kondisi lapangan. Puncak musim kemarau yang melanda wilayah Lamongan pada Agustus ini memicu lonjakan suhu udara yang cukup terik. Akibatnya, pasokan air menyusut drastis dan tanah pertanian menjadi pecah-pecah.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada pertumbuhan tanaman tembakau yang kini memasuki masa pemeliharaan petik. Banyak tanaman gagal tumbuh tinggi, ketebalan daun berkurang, bahkan tidak sedikit yang mendadak menguning, layu, lalu mati sebelum sempat dipetik.

Mengingat mutu dan keberhasilan panen tembakau sangat bergantung pada ketepatan waktu tanam serta intensitas curah hujan, pemantauan informasi iklim dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjadi krusial. Walau sudah memasuki kemarau penuh, imbauan kewaspadaan terhadap dinamika cuaca tetap diperlukan agar petani dapat meminimalkan risiko kerugian.

Keluhan terkait penurunan produktivitas ini salah satunya dirasakan oleh Jan, petani tembakau asal Desa Sempu. Ia mengaku cuaca terik tahun ini membuat volume hasil panennya diprediksi merosot dibanding musim sebelumnya.

“Pertumbuhan tembakau tidak bisa maksimal karena kurang air dan cuaca terlalu panas. Banyak tanaman yang mati di sawah,” ujar Jan saat ditemui di areal pertaniannya.

Meski harus berhadapan dengan ancaman penurunan hasil panen, Jan dan para petani di desanya memilih untuk tetap bertahan dan berserah diri. “Sebagai petani, kita berusaha maksimal. Soal hasil dan rezeki, semuanya sudah diatur oleh Allah, jadi apa pun hasilnya tetap harus disyukuri,” pungkasnya. [AR]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *