Kontribusi terbesar masih berasal dari minyak bumi dengan realisasi Rp 229,91 miliar, sementara gas bumi menyumbang Rp 5,34 miliar. Selain itu, DBH sektor kehutanan, perikanan, dan minerba juga mulai tersalurkan meski dengan nominal relatif kecil.
DBH migas memiliki peran strategis dalam mendukung pembangunan di Bojonegoro. Berikut beberapa dampak nyata yang biasanya dirasakan:
- Peningkatan Infrastruktur Publik Dana ini menjadi sumber pembiayaan utama untuk pembangunan jalan, jembatan, serta fasilitas umum lain yang menunjang mobilitas masyarakat dan distribusi ekonomi.
- Penguatan Layanan Pendidikan dan Kesehatan Sebagian alokasi DBH migas digunakan untuk mendukung program pendidikan, mulai dari rehabilitasi sekolah hingga pemberian beasiswa. Di sektor kesehatan, dana ini membantu peningkatan layanan puskesmas dan rumah sakit daerah.
- Pengembangan Ekonomi Lokal Dengan adanya DBH, pemerintah daerah memiliki ruang fiskal lebih besar untuk mendukung UMKM, pertanian, dan sektor non-migas agar perekonomian tidak bergantung sepenuhnya pada minyak dan gas.
- Peningkatan Kesejahteraan Sosial Program bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta pelatihan tenaga kerja juga kerap dibiayai dari DBH migas, sehingga manfaatnya langsung dirasakan oleh warga.
- Diversifikasi Pembangunan Selain sektor migas, DBH juga memberi peluang bagi daerah untuk mengembangkan sektor lain seperti pariwisata dan lingkungan hidup, sehingga pembangunan lebih berkelanjutan.
Dengan sisa pagu sekitar Rp 707,17 miliar yang belum tersalurkan, Bojonegoro masih memiliki peluang besar untuk memperkuat pembangunan di berbagai sektor. Namun, efektivitas pemanfaatan DBH migas sangat bergantung pada perencanaan anggaran yang tepat dan pengawasan yang ketat agar dana benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat luas.








