Serangan Israel pada Jumat (19/4) pagi terhadap Iran tampaknya terbatas, dan tidak ada korban jiwa yang dilaporkan.
Hal ini dapat mencakup sanksi baru terhadap Teheran dan memperkuat pertahanan udara dan rudal serta sistem peringatan dini di seluruh Timur Tengah, kata penasihat keamanan nasional Jake Sullivan dalam sebuah pernyataan awal pekan ini.
Media pemerintah Iran melaporkan pada Jumat dini hari waktu setempat bahwa tiga ledakan terdengar di kota Isfahan, Iran. Ledakan dilaporkan terjadi pada waktu yang hampir bersamaan di Irak dan Suriah.
Teheran mengatakan serangannya pada 13 April adalah respons terhadap serangan udara Israel terhadap konsulat Iran di Damaskus, Suriah, pada 1 April. Pemboman tersebut menewaskan Brigadir Jenderal Mohammad Reza Zahedi dan komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) lainnya. Israel tidak membenarkan atau menyangkal bertanggung jawab atas serangan itu.
Para analis mengatakan serangan balik Israel yang terbatas dan tanggapan diam Iran menunjukkan bahwa kedua belah pihak bersedia menghindari eskalasi lebih lanjut, setidaknya untuk saat ini. Namun, saat ini risiko eskalasi jauh lebih tinggi dibandingkan sebelumnya, kata Brian Katulis, peneliti senior di Middle East Institute.
“Timur Tengah kini berada dalam situasi yang belum pernah terjadi sebelumnya,” katanya kepada VOA.
Skenario terbaiknya adalah kembalinya “perang bayangan” Iran-Israel yang berupa pembunuhan dan serangan teror oleh kelompok-kelompok proksi mereka, katanya. Dampak terburuknya adalah konflik terbuka yang melibatkan perwakilan Iran di Lebanon, yang sebagian besar tidak ikut campur sejak perang Gaza.
“Jika Hizbullah ikut campur di sini, saya pikir ini akan menjadi pusaran yang menyedot lebih banyak aktor dalam konflik regional, termasuk Amerika Serikat,” tambah Katulis.
Dalam upaya memfasilitasi deeskalasi, Gedung Putih menolak membahas serangan balik Israel. Didesak oleh para wartawan selama konferensi pers oada Jumat, Sekretaris Pers Gedung Putih Karine Jean-Pierre berulang kali mengatakan, “Kami tidak memiliki komentar apa pun mengenai laporan tersebut saat ini.”
Meskipun ada tekanan AS terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, serangan balasan dari Israel diperkirakan akan terjadi, kata Ahmed Fouad Alkhatib, seorang analis Timur Tengah dari Gaza dan peneliti senior non-residen di Dewan Atlantik.








