Belajar Ekskresi Manusia Lewat Engklek, Riset Peneliti UM Sukses Tingkatkan Kemampuan Kreatif Murid

  • Whatsapp

MALANG | DN – Metode pembelajaran Sains (IPA) di tingkat sekolah menengah pertama kini punya warna baru. Tim peneliti dari Universitas Negeri Malang (UM) sukses menggebrak dunia pendidikan lewat inovasi metode belajar bernama Enjoyable Learning in Problem-Based Learning (EL-PBL).

Model pembelajaran ini sengaja dirancang untuk mendongkrak kemampuan berpikir kreatif siswa SMP melalui atmosfer kelas yang interaktif, menantang, namun tetap menyenangkan.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Riset inovatif yang bertajuk “Creating an Enjoyable Learning Experience in Problem-Based Learning to Enhance Creative Thinking of Junior High School Students” ini digawangi oleh tiga peneliti srikandi UM, yakni Diva Larasati, Yayuk Mulyati, dan Erti Hamimi.

Menurut tim peneliti, inovasi EL-PBL lahir dari rapor kemampuan berpikir kreatif siswa di Indonesia yang dinilai masih memerlukan stimulus baru. Walau metode Problem-Based Learning (PBL) sudah lazim digunakan, namun implementasi di lapangan kerap kali terasa kaku dan kurang memicu antusiasme siswa.

Guna memecahkan kebuntuan tersebut, Diva dan tim mengawinkan konsep pemecahan masalah dengan kearifan lokal, yakni permainan tradisional engklek. Modifikasinya terletak pada penyediaan kartu soal dan kartu kasus di area permainan. Format ini memaksa siswa untuk aktif berdiskusi, berkolaborasi secara kelompok, serta memecahkan masalah biologi secara kreatif.

“Melalui pendekatan ini, proses belajar tidak searah lagi. Murid didorong aktif bergerak, berani berpendapat, dan kompak memecahkan studi kasus bersama temannya,” ujar tim peneliti dalam keterangan tertulisnya.

Efektivitas metode ini diuji melalui desain quasi experiment pada materi Sistem Ekskresi Manusia. Peneliti membagi subjek ke dalam dua kelompok, yakni kelas eksperimen yang memakai EL-PBL dan kelas kontrol yang menggunakan PBL konvensional. Sebelum dan sesudah perlakuan, kedua kelas diuji menggunakan instrumen pretest dan posttest yang valid serta reliabel.

Hasilnya pun signifikan. Data analisis Independent Sample t-test pada nilai posttest membuktikan adanya perbedaan kemampuan yang mencolok antara kedua kelas, dengan nilai signifikansi $p = 0,009$ (lebih kecil dari $\alpha = 0,05$). Kelas yang menerapkan EL-PBL mencatat nilai N-Gain yang jauh melesat dibanding kelas kontrol.

Lompatan performa akademik ini terjadi merata di seluruh indikator berpikir kreatif murid, meliputi kelancaran berpikir (fluency), keluwesan (flexibility), keaslian ide (originality), serta kemampuan memerinci (elaboration). Adapun indikator elaboration atau menjabarkan ide menjadi yang paling dominan peningkatannya.

Tim peneliti menegaskan bahwa kunci sukses EL-PBL terletak pada keseimbangan antara permainan edukatif dengan esensi pembelajaran berbasis masalah. Kombinasi ini terbukti ampuh memicu motivasi internal siswa dalam mencari solusi ilmiah.

Lewat temuan ini, Diva Larasati, Yayuk Mulyati, dan Erti Hamimi menaruh harapan besar agar model EL-PBL diadopsi secara luas oleh para guru IPA di sekolah-sekolah. Model ini menjadi bukti nyata bahwa menciptakan suasana belajar yang bahagia (enjoyable learning) menjadi modal penting dalam mencetak generasi kompeten yang siap menghadapi tantangan abad ke-21. [CAS]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *