Belajar dari 2 Turbulensi Pesawat, Haruskah Kita Khawatir?

  • Whatsapp
FILE - Pesawat Singapore Airlines untuk penerbangan SQ321 diparkir di landasan setelah pendaratan darurat di Bandara Internasional Suvarnabhumi.

Ilmuwan di National Science Foundation National Center for Atmospheric Research, Lary Cornman mengatakan turbulensi pada dasarnya adalah udara yang tidak stabil, yang bergerak dengan cara yang tidak dapat diprediksi. Kebanyakan orang mengasosiasikannya dengan badai kuat.

“Apa penyebabnya? Ada banyak faktor yang menjadi sumber turbulensi. Saat di dekat permukaan tanah, pemanasan menyebabkan udara naik dengan cepat dan saling bergesekan, dan menyebabkan turbulensi. Pada ketinggian yang lebih tinggi di mana sebagian besar pesawat terbang beroperasi, sumber utamanya adalah turbulensi udara jernih (clear air turbulence). Itu adalah akibat adanya aliran jet yang menyebabkan angin sangat kuat. Dan di ujung-ujung dari aliran jet terdapat gesekan besar. Gesekan inilah yang menyebabkan angin berubah menjadi pusaran,” jelasnya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mengingat turbulensi yang dialami pesawat terbang terjadi karena jet stream atau aliran udara yang kuat, pemanasan dan pergerakan udara yang cepat, serta tekanan udara, Larry Cornman mengatakan banyak kajian mengisyaratkan turbulensi erat kaitannya dengan perubahan iklim.

“Tetapi masih belum jelas apakah ini dampak perubahan iklim… ini baru hipotesa. Tampaknya memang masuk akal, tetapi belum ada bukti,” imbuhnya.

Pakar: Singapore Airlines Alami Vertical Wind Shear

Khusus dalam kasus turbulensi yang dialami Singapore Airlines 321 minggu lalu, pakar penerbangan Anita Mendiratta menilai penyebabnya adalah pergesekan angin secara vertikal (vertical wind shear).

Interior pesawat Singapore Airlines penerbangan SQ321 setelah pendaratan darurat di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok, di Bangkok, Thailand 21 Mei 2024. (Reuters/Handout via REUTERS)
Interior pesawat Singapore Airlines penerbangan SQ321 setelah pendaratan darurat di Bandara Internasional Suvarnabhumi Bangkok, di Bangkok, Thailand 21 Mei 2024. (Reuters/Handout via REUTERS)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *