Masih menurut Ihya, untuk meningkatkan program bahasa Mandarin, pesantrennya juga menawarkan program intensif selama dua bulan dan biasanya hanya diperkenalkan pada tingkat SMA.
Saat menjalani program itu, siswa dibebaskan dari materi baru mata pelajaran-mata pelajaran lain, dan hanya terfokus pada bahasa Mandarin.
“Jadi selama dua bulan, dari pagi sampai malam, ada pelajaran bahasa Mandarin. Pada pagi ada listening, kemudian ada writing dan ada speaking, ada latihan atau exercise. Jadi selama dua bulan, mereka diforsir untuk bisa bahasa Mandarin,” kata Ihya.
Untuk memastikan keefektifannya, pesantren itu menunjuk sejumlah mata-mata yang tak sungkan melaporkan bila ada siswa yang tidak menggunakan bahasa Mandarin selama berada dalam program itu, dan memberlakukan hukuman yang tidak ringan terhadap siswa itu, seperti berpidato dalam bahasa Mandarin di hadapan teman-temannya.
Para siswa Maktuba al-Majidiyah juga sering ikut dalam kompetisi bahasa Mandarin di tingkat nasional, meski kemenangannya tidak sebanyak yang dibukukan Nurul Jadid. Paling tidak, pada tahun 2017 dan 2019, siswa Maktuba al-Majidiyah pernah menang di tingkat nasional, dan dikirim ke China. Sebagai catatan, lima siswa lulusan pondok pesantren di Madura ini sudah mengenyam pendidikan tinggi di China, dengan tiga di antaranya kini mengajar bahasa Mandarin di pesantren asal mereka.
Nurul Jadid sendiri mulai menawarkan bahasa Mandarin pada tahun 2004, setelah mendapat dukungan pemerintah. Langkah itu sempat menimbulkan kontroversi, mengingat pesantren berlandaskan prinsip-prinsip Islam, sementara beberapa unsur budaya Tionghoa dianggap tidak sesuai dengan ajaran Islam. Apalagi, bahasa tersebut tidak memiliki hubungan budaya dengan Islam.
Bahkan, ketika itu, muncul kekhawatiran bahwa pengajaran bahasa Mandarin dalam kurikulum pesantem akan merendahkan bahasa Arab – yang sangat diutamakan Muslim, mengingat bahasa itu digunakan dalam kitab suci Alquran — dan bisa menyebabkan penyimpangan dari Islam.
Namun, keresahan itu berhasil ditepis, setelah banyak pemuka agama Islam, termasuk para sesepuh Nurul Jadid, yang menyatakan pendapat mereka bahwa sebuah hadis dari Nabi Muhammad SAW bahkan menyiratkan agar para pengikutnya mencari ilmu ke mana saja, bahkan sampai ke China.
Kampung Mandarin Pare juga memiliki lebih banyak guru. Delapan belas orang tercatat sebagai pengajar offline, sementara 12 lainnya pengajar online.
Menurut Syamsul, dewasa ini bahasa Mandarin dipilih, karena perkembangan ekonomi China telah menciptakan permintaan yang kuat terhadap orang-orang yang bisa berbahasa Mandarin. Singkatnya, perkembangan ekonomi China mengubah pasar linguistik di Indonesia.
Sebelumnya, bahasa Mandarin dipandang sebagai bahasa yang kurang bernilai. Kini, bahasa itu dipandang sebagai bahasa yang memiliki nilai yang lebih berarti dibandingkan dengan bahasa-bahasa asing lain.
Budi Kurniawan, staf pengajar Program Bahasa Mandarin Universitas Kristen Petra, dan rekannya, Setefanus Suprajitno, pernah melakukan studi mengenai bahasa Mandarin dan status sosial di kalangan lulusan Pesantren Nurul Jadid. Hasil studi mereka, yang sempat dipublikasikan di Jordan Journal of Modern Languages and Literatures pada tahun 2022, menunjukkan, bahasa Mandarin bisa men-challenge reproduksi sosial.
“Dengan belajar bahasa Mandarin, status sosial mereka bisa berubah, bisa menjadi lebih tinggi. Jadi positif, bisa mengangkat kesejahteraan, bisa mengangkat taraf hidup,” jelas Budi. [Red]#VOA










