
Belajar Bahasa Mandarin di Pesantren, Mengapa Tidak?

Untuk bisa masuk kelas unggulan, para siswa harus melalui proses seleksi. Kebanyakan dari mereka yang diterima di kelas ini mempunyai minat tinggi dalam pembelajaran bahasa Mandarin.
Bilhaq Robby Hasby, siswa kelas 2 SMA Jurusan Bahasa Mandarin yang akrab dipanggil Abil, bangga bisa berbahasa Mandarin. Ia kerap mendapat pujian saat pulang untuk liburan ke kota asalnya, Jember.
“Banyak orang yang kagum dan bilang, wah anak ini bisa bahasa Mandarin. Padahal kan jarang ada orang yang bisa berbahasa Mandarin,” kata Abil.
Abil, yang ayahnya juga alumni Nurul Jadid, mengaku program pengajaran bahasa Mandarin di pesantren sangat memicu keinginannya untuk belajar lebih jauh. “Saya lihat (program pembelajaran) bahasa Mandarin di sini sangatlah maju. Banyak alumninya yang bisa pergi ke China. Programnya efisien dan sangat cocok untuk saya,” katanya.
Muhammad Munir, siswa kelas 3 di jurusan yang sama, juga bangga. Seperti halnya Abil, Munir bahkan optimistis bisa mendapatkan beasisiwa untuk menempuh pendidikan tinggi di China seperti kakaknya yang kini juga mengajar bahasa Mandarin di pesantren itu. “Lulus kelas 3, Insya Allah cari beasiswa ke China,”ungkapnya.
Baik Abil maupun Munir mengaku belajar bahasa Mandarin tidaklah mudah. Namun, mereka memiliki cara untuk bisa menguasainya.
Abil mengungkapkan, “Speaking. Sering berbicara bahasa Mandarin bersama teman-teman. Kemudian untuk mempelajari aksaranya, saya rajin menulis dan mencari tahu apa artinya.”
Sementara Munir berujar, “Saya juga speaking. Kemudian mendengarkan lagu Mandarin, mendengarkan orang China bicara bahasa Mandarin.”
Berbeda dengan Nurul Jadid, Maktuba al-Majidiyah yang berlokasi di Pamekasan, Madura, menawarkan pelajaran bahasa Mandarin pada semua tingkatan — SD, SMP, SMA, kecuali perguruan tinggi.
Menurut Ihya, tingkatan pembelajaran bahasa Mandarin para siswa di Maktuba al-Majidiyah tergantung jenjang penguasaan materi Kitab Kuning – istilah yang merujuk pada buku-buku tradisional yang berisi pelajaran-pelajaran agama Islam.
Artinya siswa SD bisa saja berada dalam satu kelas bahasa Mandarin dengan siswa SMA bila pengetahuan agama Islamnya memadai. Sebagai informasi, penetapan asrama di sana juga bergantung pada penguasaan Kitab Kuning.
Mandarin juga hanya boleh dipelajari setelah menguasai bahasa Arab dan Inggris. “Level-levelnya, pertama harus belajar bahasa Arab, kedua bahasa Inggris, ketiga bahasa Mandarin, dan keempat, atau terakhir, bahasa Prancis,” jelas Ihya.
Saat ini ada sekitar 150 siswa — 80 di antaranya pria yang belajar bahasa Mandarin di Maktuba al-Majidiyah, yang total jumlah pelajarnya 2.000 orang.










