Kepada VOA, Sullivan mengakui ada keretakan baru dalam proses negosiasi tersebut. Mesir, yang memimpin perundingan, baru-baru ini mendukung gugatan Afrika Selatan terhadap Israel atas tuduhan genosida di Mahkamah Internasional.
“Saya tidak yakin (dukungan Mesir atas gugatan Afrika Selatan) membantu mempermudah pembahasan soal upaya menyelesaikan masalah bantuan kemanusiaan dan akses antara Mesir dan Israel. Namun, saya yakin bahwa Mesir, Israel, Amerika Serikat, PBB, kita semua mencoba bekerja sama untuk mencari jalan keluar,” jelas Sullivan.
“Ada sinyal-sinyal yang tidak jelas dari pemerintah (AS). Terkadang mereka tampak seperti menentang apa pun di Rafah, tetapi terkadang, ‘Tidak, kami tidak menentangnya. Kami hanya belum memiliki rencana yang tepat.’ Jadi, saya pikir hal ini perlu diklarifikasi,” ujar David Makovsky, peneliti Ziegler dari Washington Institute dan direktur Koret Project yang terkait hubungan Arab-Israel.
“Saya hanya ingin menegaskan kepada Perdana Menteri Netanyahu tentang tanggung jawabnya atas apa yang terjadi di sini pada tanggal 7 Oktober,” kata Nir Galon, seorang pengusaha yang berbasis di Tel Aviv.
Sementara para pejabat pemerintah mencoba merundingkan perdamaian, serangan Israel ke Gaza terus berlanjut. [Red]#VOA








