TikTok menjelaskan bahwa cara platform itu merekomendasikan video di laman “Untuk Anda” didasarkan pada sejumlah faktor, yaitu interaksi pengguna (video-video yang disukai, diberikan komentar, dan dibagikan ke pengguna lain), informasi-informasi dari video (teks, musik, dan tagar yang dipakai), serta informasi pengguna (preferensi bahasa, jenis perangkat dan lokasi pengguna).
Menurut Enda Nasution, pakar teknologi dan pengamat media sosial, pada dasarnya fitur rekomendasi semacam ini merupakan sebuah solusi terhadap banyaknya konten yang ada, sehingga pengguna bisa menemukan konten-konten yang dianggapnya menarik.
“Objektif dari algoritma media sosial adalah agar pengguna menghabiskan waktu selama mungkin di platform mereka,” ujarnya.
Kemunculan fenomena itu pun tidak disanggah TikTok, yang memang menyebut filter bubble sebagai tantangan yang melekat pada sistem rekomendasi.
Lantas, apa implikasinya terhadap pemilu kali ini?
“Jadi kalau kitanya sudah menutup diri, tidak mau melihat pilihan kandidat (capres-cawapres) yang lain, kecenderungan kita untuk mencari informasi, bahkan ketika dipaparkan informasi yang kontra atau negatif terhadap calon yang kita pilih pun, kita sudah akan antipati duluan,” jelas Enda.
Algoritma di Mata Pengguna
Sebagai pengguna media sosial, Antariksa Akhmadi, mahasiswa University of Maryland, mengakui adanya kecenderungan algoritma dalam menyetir pandangan pengguna selama masa kampanye pemilu.
“Pada satu titik, mungkin terpengaruh opini tertentu, misalnya (saat) sudah mulai menjurus ke paslon presiden tertentu,” katanya.
Namun, sebagai pengguna yang melek teknologi, Antariksa tidak serta-merta menerima konten yang disajikan kepadanya. “Kadang-kadang harus scroll yang lama, baru ketemu (konten soal paslon lain), karena adanya algoritma itu tadi.”
Ia sendiri lebih menyukai platform X, yang memudahkannya melihat interaksi antarakun pengguna dibandingkan Instagram maupun TikTok, meskipun ia juga terkadang melihat video-video yang ada di kedua platform itu diunggah-ulang di X.








