Algoritma Media Sosial: Seberapa Besar Pengaruhi Pemilu Indonesia?

  • Whatsapp
Platform-platform digital di ponsel. (Courtesy: VOA Indonesia)

TikTok menjelaskan bahwa cara platform itu merekomendasikan video di laman “Untuk Anda” didasarkan pada sejumlah faktor, yaitu interaksi pengguna (video-video yang disukai, diberikan komentar, dan dibagikan ke pengguna lain), informasi-informasi dari video (teks, musik, dan tagar yang dipakai), serta informasi pengguna (preferensi bahasa, jenis perangkat dan lokasi pengguna).

Menurut Enda Nasution, pakar teknologi dan pengamat media sosial, pada dasarnya fitur rekomendasi semacam ini merupakan sebuah solusi terhadap banyaknya konten yang ada, sehingga pengguna bisa menemukan konten-konten yang dianggapnya menarik.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Objektif dari algoritma media sosial adalah agar pengguna menghabiskan waktu selama mungkin di platform mereka,” ujarnya.

Namun, muncul risiko lain yang tidak semua orang sadari, di mana konten-konten yang mereka tonton menjadi semakin homogen dan menimbulkan fenomena yang disebut sebagai “filter bubble”, atau gelembung penyaring informasi, di mana pengguna tidak menyadari bahwa mereka terjebak di dalam lingkup informasi yang hanya akan memperkuat pandangan mereka sendiri.

Kemunculan fenomena itu pun tidak disanggah TikTok, yang memang menyebut filter bubble sebagai tantangan yang melekat pada sistem rekomendasi.

Lantas, apa implikasinya terhadap pemilu kali ini?

“Jadi kalau kitanya sudah menutup diri, tidak mau melihat pilihan kandidat (capres-cawapres) yang lain, kecenderungan kita untuk mencari informasi, bahkan ketika dipaparkan informasi yang kontra atau negatif terhadap calon yang kita pilih pun, kita sudah akan antipati duluan,” jelas Enda.

Sementara itu, kepada VOA, pakar media dan komunikasi massa dari Oklahoma State University, Nuurrianti Jalli, menilai algoritma dapat menyeret pengguna ke dalam narasi-narasi yang berbau propaganda, ujaran kebencian dan emotional content (konten yang memicu respon emosional audiens), yang bisa terbawa ke kehidupan nyata, yang berarti, orang-orang akan turun ke jalanan.

Algoritma di Mata Pengguna

Sebagai pengguna media sosial, Antariksa Akhmadi, mahasiswa University of Maryland, mengakui adanya kecenderungan algoritma dalam menyetir pandangan pengguna selama masa kampanye pemilu.

“Pada satu titik, mungkin terpengaruh opini tertentu, misalnya (saat) sudah mulai menjurus ke paslon presiden tertentu,” katanya.

Namun, sebagai pengguna yang melek teknologi, Antariksa tidak serta-merta menerima konten yang disajikan kepadanya. “Kadang-kadang harus scroll yang lama, baru ketemu (konten soal paslon lain), karena adanya algoritma itu tadi.”

Ia sendiri lebih menyukai platform X, yang memudahkannya melihat interaksi antarakun pengguna dibandingkan Instagram maupun TikTok, meskipun ia juga terkadang melihat video-video yang ada di kedua platform itu diunggah-ulang di X.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *