Akhirnya, Mereka Belanja Secara Bertanggung Jawab

  • Whatsapp
ILUSTRASI - Konsumen muda kini banyak mengikuti tren consious consumerism, belanja lebih bijak dengan mengurangi konsumsi dan memprioritaskan keberlanjutan lingkungan. (myWorld International /mediaWorld agency GmbH/news aktuell via AP)

“Dan memang, fenomena yang terjadi pada generasi sebelumnya, tidak sama dengan generasi saat ini. Sehingga menjadi hal wajar jika cara generasi sebelumnya dalam menanggapi permasalahan atau isu lingkungan, agak berbeda dengan generasi saat ini,” kata Caine.

Meski demikian, menurut Didi, tren conscious consumerism sebetulnya baru muncul di wilayah perkotaan, khususnya kota-kota besar di mana kampanye lingkungan sering digelar. Di wilayah lain, apalagi yang terpencil, praktik seperti itu sangat tidak dikenal. Di sana, menurutnya, konsumen lebih memperhitungkan harga dan kemudahan mengakses.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Didi mencontohkan, pertumbuhan cepat mini market di berbagai pelosok Indonesia. Desakan modernisasi ini, katanya, membuat “anak-anak tidak lagi mengonsumsi makanan dari kebun, tapi mulai bergeser pada makanan-makanan yang instant. Itu kan artinya, society-nya tidak bisa menahan gerak modernisasinya dengan gerakan kepedulian lingkungan.”

Sudah menjadi pengetahuan umum, makanan instant atau ultraolahan, umumnya tidak ramah lingkungan karena menjadi penyumbang kerusakan lingkungan dan emisi gas rumah kaca.

Menurut Didi, di kota-kota besar, seperti Jakarta, tingkat kepedulian generasi muda terhadap kantong belanja plastik sangat terasa. Menghindari penggunaan tas belanja seperti itu bukanlah hal yang mengherankan. Ankayama membenarkan itu, “Kalau saya lihat orang tuh saat ini seperti sudah lebih leluasa atau wajar menolak menggunakan kantong plastik. Mereka bilang ‘oh nggak usah pakai kantong plastik, tapi langsung masuk ke tas saya saja.’ Itu lebih mudah diterima dan dianggap biasa saja. Kalau dulu, mungkin ada pertanyaan, ‘Oh nggak mau pakai kantong plastik?’.”

Didi mengatakan, fakta itu juga terbaca dalam proyek “Clean Up” yang digelar National Geographic Indonesia di bawah gerakan “Saya Pilih Indonesia”. Sebelum pandemi, di sebuah kawasan di Jakarta yang membentang sepanjang lima kilometer, pada satu rentang waktu, tim relawan yang terlibat dalam proyek itu menemukan 300 kilogram kantong plastik sekali pakai. Tapi, setelah pandemi, tepatnya awal tahun 2024, di area yang sama dan pada rentang waktu yang sama, tim relawan serupa hanya menemukan kurang dari 100 kilogram kantong plastik sekali pakai.

Lebih jauh Didi mengatakan, menggalang relawan dalam aksi-aksi lingkungan jauh lebih mudah dilakukan di kota-kota besar. “Bila kita buka kesempatan volunteer, dalam satu hari saja, kita bisa dapat 50 orang dengan sangat cepat dan mudah.”

Bagaimana tingkat kepedulian generasi Z dibanding generasi Milenial dalam aksi lingkungan? Didi mengatakan,”kalau berisiknya gen Z, kalau aksinya Milenial. Mengingat digital awareness-nya yang tinggi, gen Z itu sangat ingin tampil di publik, berbicara, protes dan lain lain, tapi kalau soal aksi nyata lingkungan, saya lebih banyak bertemu orang-orang Milenial.”

Terlepas dari persoalan itu, Didi sangat mengapresiasi antusiasme generasi muda Indonesia dalam mengatasi persoalan lingkungan. Ia percaya, partsipasi gen Z dan Milenial sangat diperlukan dalam mengatasi persoalan lingkungan saat ini. Ia mengatakan, ide-ide kreatif dan inovatif dari generasi muda akan bisa menjawab tantangan lingkungan yang selalu saja berubah.

National Geographic Indonesia, sejauh ini telah berusaha menggalang partisipan muda dengang berbagai cara. Majalah yang berdiri di Indonesia sejak 2005 ini, misalnya, rajin menggelar proyek-proyek clean up yang mengusung tema sustainable tourism.

“Kami sengaja mengusung tema ini, karena gen Z sangat peduli dengan dunia wisata. Ini terlihat dalam postingan mereka di media-media sosial. Menggandengkan isu lingkungan dengan pariwisata sangat mudah menarik perhatian mereka,” katanya.

Bersama PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) dan PT Toyota-Astra Motor (TAM), majalah ini juga menggelar kompetisi sains “Toyota Eco Youth” setiap tahunnya, untuk menumbuhkan minat generasi muda, khususnya pelajar kelas menengah atas dalam mengembangkan teknologi-teknologi yang memberi manfaat besar bagi lingkungan.

Kepedulian generasi muda, khususnya gen Z dan Milenial, terhadap lingkungan, saat ini sebetulnya banyak tercermian dalam beberapa jajak pendapat. Survei aplikasi JakPat yang digelar pada September 2022 menunjukkan, dari lebih 2300 responden usia muda, sekitar 70 persen mengaku selalu berbelanja dengan tas sendiri, sebanyak 56,2 persen sering membeli produk ramah lingkungan, dan 46,4 persen rajin mengumpulkan kemasan produk kosong ke tempat daur ulang.

Jajak pendapat yang sama juga menunjukkan, 45,2 persen responden suka membeli produk berbahan alami dan organik saat berbelanja; 42,1 persen membeli produk dengan kemasan isi ulang; dan 36,2 persen memilih merek yang peduli pada lingkungan. [Red]#VOA