Caine dan Ankayama adalah dua dari dari sekian banyak anak muda yang mempraktikkan conscious consumerism. Mereka mengambi keputusan belanja secara lebih bijaksana, dan sering kali dengan tujuan mengurangi konsumsi dan memprioritaskan keberlanjutan.
Mereka yang mempraktikan conscious consumerism biasanya mendukung perusahaan yang mengikuti standar etika yang tinggi, membeli barang hasil perdagangan yang adil, dan membeli produk berkelanjutan. Produk berkelanjutan, pada prinsipnya, adalah produk yang bersifat tahan lama dan dapat digunakan kembali atau terbuat dari bahan yang mudah terdekomposisi di alam.
Sederhananya, mereka membuat keputusan membeli tidak hanya berdasarkan apa yang tercetak pada label barang. Sebagai konsumen yang sadar, keputusan mereka dipengaruhi oleh apa dan bagaimana sebuah barang diproduksi, termasuk apakah operasi produsen barang itu membahayakan lingkungan dan sumber daya manusia.
Ankayama, contohnya, tidak keberatan membeli produk-produk kecantikan organik dan vegan yang harganya jauh lebih mahal, karena ia mengerti beban biaya yang ditanggung produsen lebih besar sementara dampak lingkungannya lebih kecil. Apalagi, permintaan akan produk-produk seperti masih rendah.
“Setahu aku, harga itu dipengaruhi oleh bahan. Karena bahannya organik, tumbuhan yang dibudidayakan harus bebas dari bahan-bahan kimia, seperti pestisida. Itu kan perlu cost. Apalagi mereka melakukan packaging dengan bahan yang mudah didaurulang, contohnya kaca. Kaca itu berat, dan tentunya membuat mahal proses transportasinya, “ kata perempuan yang pernah diajak kerjasama oleh dua produsen produk kecantikan ternama, BLT Cosmetics dan AquaSkin, dalam menggalang ide-ide inovatif untuk produk ramah lingkungan itu.
Produk-produk organik pada umumnya menggunakan wadah terbuat dari kaca, mengingat bahan itu bersifat permanen dan dapat didaur ulang tanpa batas. Botol kaca, contohnya, dapat digunakan kembali dan diisi ulang.
Upaya Ankayama dalam mempraktikkan conscious consumerism tidak hanya sampai di situ. Sebagai influencer dengan lebih dari 28.000 pengikut, ia memanfaatkan kekuatan media sosial untuk mengangkat isu lingkungan terkait produk-produk kecantikan, dan mendorong pembicaraan yang serius mengenai pentingnya lingkungan berkelanjutan. Ia menyadari bahwa gairah yang semakin besar di kalangan konsumen untuk mencoba berbagai produk kecantikan telah meningkatkan limbah lingkungan.
Menurut Caine dari Setali Indonesia, conscious consumerism di kalangan generasi muda Indonesia kini menjadi tren baru, khususnya di wilayah perkotaan.
“Saat ini, generasi mudah sudah lebih banyak sadar akan dampak lingkungan, meskipun prosentasenya belum bisa dikatakan mayoritas. Namun perubahan perilaku ini perlu terus didorong dan diapresiasi sehingga tidak menjadi tren sesaat, melainkan menjadi sebuah kebudayaan baru,” kata Caine.
Didi Kaspi Kasim, pemimpin redaksi National Geographic Indonesia, setuju. “Kalau consciousness-nya kayaknya memang mulai ada. Namun society-nya (generasi muda, red) masih perlu didampingi sehingga mereka bisa benar-benar mengerti bagaimana menjadi conscious ke arah yang benar,” katanya. “
Didi mencermati, selain selektif dalam membeli produk, semakin banyak konsumen muda Indonesia yang menerapkan gaya hidup minimalis dan hanya membeli seperlunya saja. Menurutnya, minimalisme juga merupakan bagian dari praktik conscious consumerism. Mereka yang mempraktikannya, tidak membeli barang yang tidak diperlukan, dan tidak perduli apakah keputusannya itu membuatnya “ketinggalan” dibanding rekan-rekan sebayanya.
Sebagai konsumen yang bertanggung jawab, Didi sendiri membiasakan diri untuk meneliti produk yang dikonsumsinya dan produsennya. “Saya selalu berusaha untuk mendapatkan informasi yang baik tentang produk yang saya konsumsi, serta perusahaan yang memproduksinya,” kata Didi. “Saya ingin tahu apa dilakukan perusahaan-perusahaan ini terhadap lingkungan dan orang-orang di sekitar mereka sebelum mendukung mereka dengan membeli produk mereka.”
Menurut Caine, tren conscious consumerism di kalangan generasi Milenial dan generasi Z muncul karena mereka tumbuh dengan melihat fenomena perubahan iklim di mana-mana, seiring berkembangnya era digital yang memudahkan akses mereka ke informasi. Jadi, katanya, mereka lebih sadar lingkungan dan ingin mengambil tindakan nyata untuk mengendalikan perubahan iklim, ketimbang generasi-generasi sebelumnya, seperti Baby Boomer.










