Menjelajah Deket Wetan dan Glagah: Potret Desa Berdaya di Lamongan dari Jejak Wali Sanga hingga Penguatan UMKM

  • Whatsapp

LAMONGAN | DN – Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 di Kabupaten Lamongan berlangsung semarak. Peringatan momentum bersejarah ini mengombinasikan selebrasi kebangsaan dengan penguatan ekonomi kerakyatan serta pelestarian sejarah lokal, seperti yang terlihat di Desa Glagah dan Desa Deket Wetan.

Di Desa Glagah, Kecamatan Glagah, kemeriahan terpusat di sepanjang aliran sungai desa pada Selasa (25/8/2026). Pemerintah Desa Glagah mengemas peringatan kemerdekaan melalui ajang Lomba Mancing Mania Ikan Patin yang terintegrasi dengan bazar UMKM warga.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kepala Desa Glagah, M. Misran, menegaskan bahwa strategi kolaboratif ini sengaja dirancang untuk menggerakkan roda Perekonomian warga sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Peringatan HUT RI ke-81 kami dorong agar memberi dampak ekonomi nyata. Selain menjadi sarana hiburan bagi 250 peserta mancing, kami melibatkan 15 pelaku UMKM desa untuk menggelar produk unggulannya di lokasi,” ujar M. Misran.

Persaingan ketat di sepanjang bantaran sungai bermuara pada kemenangan Yosi, peserta lokal yang berhasil menaklukkan ikan patin berbobot 1,420 kg. Atas capaian tersebut, Yosi memboyong hadiah utama berupa satu unit sepeda listrik yang diserahkan langsung oleh Kepala Desa di panggung utama.

Resiliensi Sejarah dan Modernisasi Deket Wetan

Di sudut lain Kabupaten Lamongan, semangat pembangunan berbasis identitas juga terpancar kuat di Desa Deket Wetan, Kecamatan Deket. Menguasai wilayah strategis seluas 250,5 hektar di lintasan jalur nasional dan kawasan industri, desa ini sukses menyelaraskan modernisasi tanpa mengikis nilai sejarah berusia 426 tahun.

Akar historis Deket Wetan terikat erat dengan jejak dakwah Mbah Sinuwun, putra Sunan Ampel dan Nyai Manila. Titah Sunan Ampel untuk memakamkan sang putra di pemukiman terdekat (mandek) menjadi cikal bakal berdirinya kawasan Deket Wetan dan Deket Kulon.

Kepemimpinan desa yang berkesinambungan—mulai dari Faturrahman (1871) hingga Ir. Kusbianto Susiloputro, M.Si. yang menjabat saat ini—terus merawat ajaran luhur Heneng, Hening, Henung serta prinsip Resep Teyasing Sasama (selalu membahagiakan sesama) sebagai pijakan moral pembangunan.

Melalui integrasi pesta rakyat berbasis ekonomi di Glagah serta ketahanan spiritual di Deket Wetan, desa-desa di Lamongan membuktikan bahwa kemajuan ekonomi dan penghormatan atas sejarah dapat berjalan selaras. [NH]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *