Tekan Lonjakan Harga, Pemkab Ngawi Gandeng Bulog Intervensi Pasar Lewat Minyakita

  • Whatsapp

NGAWI | DN – Pemerintah Kabupaten Ngawi melalui Bidang Tata Niaga Perdagangan Dinas Perdagangan, Perindustrian, dan Tenaga Kerja (DPPTK) bersama Bulog terus mengintensifkan penyaluran minyak goreng kemasan MinyaKita ke sejumlah pasar tradisional. Langkah strategis ini ditempuh guna menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan keterjangkauan pasokan di tingkat pengecer.

Langkah pengawasan tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) sekaligus pendampingan distribusi MinyaKita di Pasar Walikukun, Selasa (04/08/2026) pagi. Pada giat ini, sebanyak 1.800 liter MinyaKita kemasan dua liter disalurkan kepada delapan pedagang pasar yang telah memiliki Nomor Induk Berusaha (NIB) dan terdaftar resmi di Bulog.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Dalam penyaluran tersebut, harga dari Bulog ditetapkan sebesar Rp15.700 per kemasan dua liter, atau Rp174.000 per karton. Penyaluran terukur ini dilakukan untuk mengunci harga jual di tingkat pedagang agar tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET).

Kepala Bidang Tata Niaga Perdagangan DPPTK Kabupaten Ngawi, Susana Ika Herawati, S.E., menjelaskan bahwa tingginya konsumsi masyarakat terhadap MinyaKita menuntut hadirnya pasokan yang konsisten.

“Permintaan masyarakat terhadap MinyaKita masih sangat tinggi. Oleh karena itu, distribusi secara rutin setiap pekan menjadi kunci utama agar stok di pasar tradisional tetap terjaga dan harga terintegrasi sesuai HET,” terang Susana.

Sebelum menyasar Pasar Walikukun, intervensi pasar serupa telah dilaksanakan pada Senin (03/08/2026). Tim gabungan menyalurkan 720 liter MinyaKita di Pasar Beran dan 1.800 liter kemasan dua liter di Pasar Besar Ngawi kepada para pedagang ber-NIB.

DPPTK Ngawi bersama Bulog berkomitmen melakukan pemantauan berkala terhadap stok dan pergerakan harga di lapangan. Skema distribusi langsung kepada pedagang resmi ini diharapkan mampu memangkas rantai pasok yang berpotensi memicu lonjakan harga спеkulatif di tingkat konsumen. [Don]

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *