Badan Penegakan Imigrasi dan Cukai (ICE) telah menangkap sekitar 8.000 imigran tanpa dokumen sejak Donald Trump kembali menjabat di Gedung Putih. Menghadapi penggerebekan dan penangkapan ICE, imigran asal Indonesia yang masuk kategori tanpa dokumen, merasa ketakutan, tetapi mengaku pasrah.
DN – Rina melangkah cepat di kawasan Manhattan, Kota New York. Bukan karena angin musim dingin yang tetap menusuk tulang walaupun ia sudah mengenakan jaket, tetapi ia ingin segera tiba di tempat kerja.
Tepat tengah hari dia mulai bekerja. Tepat tengah malam, selepas bekerja, Rina yang meminta nama lengkapnya tidak disebut, kembali bergegas melangkah ke subway, kereta bawah tanah, yang membawanya kembali ke rumah kos.
Setiap kali melihat polisi, Rina mengatakan, badannya bergetar. Kerap kali ia kesulitan berusaha tampil tenang karena jantungnya berdegup keras.
Setiap hari seperti itu, ujar Rina, perempuan muda yang bekerja di sebuah restoran. Dia bekerja 10 jam. Nyaris tidak ada waktu untuk bersosialisasi walaupun ada hari libur kerja.
“Rina kebetulan juga bagusnya nggak terlalu bergaul sama orang. Jadi nggak punya koneksi luas gitu,” katanya.
Pada hari pertama menjabat, Trump menandatangani rangkaian instruksi terkait imigrasi, memungkinkan upaya untuk menindak tegas imigran yang tidak secara legal berada di AS dan bahkan melakukan tindak kejahatan. Ia juga menandatangani Undang-Undang Laken Riley, memungkinkan penahanan imigran ilegal yang dituduh melakukan pencurian, perampokan, penyerangan terhadap petugas penegak hukum, dan kejahatan apa pun yang menyebabkan kematian atau cedera tubuh yang serius.
Luasnya penggerebekan oleh petugas imigrasi, semakin membuat Rina ingin ‘hilang’ dari radar. Dia lebih banyak diam di rumah, hanya keluar untuk pergi dan pulang kerja. Itupun dengan was-was.
“Mau gimana lagi ya? Cuma bisa pasrah saja menjalani. Takut sih, takut. Cuma mau gimana? Kalau dipikirkan terus, nanti sakit lagi. Keluar biaya kan?” cetusnya diiringi tawa getir.
Rina mengaku terpaksa melanggar izin tinggal di AS. Alasannya, masih punya tanggungan. Ia berutang banyak untuk bisa datang ke AS tahun lalu sebagai pekerja magang.








