Sebuah video menunjukkan detik-detik terakhir kehidupan Yahya Sinwar. Ia tampak menggunakan masker, dan terlihat terluka di sebuah apartemen yang hancur akibat tembakan. Namun, di tengah kondisi tersebut ia tetap berusaha melemparkan tongkat ke arah drone yang merekamnya.
KAIRO | DN – Bagi seorang ayah dari Gaza, kematian pemimpin Hamas Yahya Sinwar saat mencoba menghalau drone dengan tongkat dalam pertempuran dianggap sebagai “kematian seorang pahlawan.”Sementara bagi yang lain, ini menjadi contoh bagi generasi mendatang, meskipun beberapa orang menyesalkan besarnya biaya perang yang ditimbulkan akibat konflik dengan Israel.Sinwar, yang merancang serangan mematikan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang memicu perang di Gaza, tewas dalam baku tembak dengan pasukan Israel pada Rabu (16/10), dan kematiannya diumumkan pada Kamis (17/10). Selama setahun terakhir, Israel melakukan pengejaran terhadap Sinwar.
Sebuah video menunjukkan detik-detik terakhir kehidupan Sinwar. Ia tampak menggunakan masker, dan terlihat terluka di sebuah apartemen yang hancur akibat tembakan. Namun, di tengah kondisi tersebut ia tetap berusaha melemparkan tongkat ke arah drone yang merekamnya. Hal itu memantik rasa bangga di kalangan warga Palestina.
“Ia meninggal sebagai pahlawan, menyerang, bukan melarikan diri, mencengkeram senapannya, dan bertempur melawan tentara pendudukan di garis depan,” kata pernyataan Hamas yang berduka atas kematian Sinwar.
Dalam pernyataan itu, Hamas bertekad bahwa kematian Sinwar hanya akan memperkuat gerakan tersebut, seraya menambahkan bahwa Hamas tidak akan berkompromi dengan syarat-syarat untuk mencapai kesepakatan gencatan senjata dengan Israel.
“Ia meninggal dengan mengenakan rompi militer, bertempur dengan senapan dan granat, dan ketika ia terluka dan berdarah, ia tetap bertempur dengan tongkat. Beginilah cara para pahlawan meninggal,” kata Adel Rajab, 60 tahun, seorang ayah dua anak di Gaza.









