DN – Paus Fransiskus melakukan perjalanan paling panjang, paling jauh dan paling menantang dalam masa kepausannya saat ia mengunjungi wilayah Asia dan Oseania pada minggu ini.
Paus akan menempuh jarak 32.814 kilometer dengan pesawa terbang dalam lawatan ke Indonesia, Papua Nugini, Timor Leste dan Singapura, mulai dari tanggal 2-13 September. Lawatan tersebut melampaui 44 perjalana ke luar negeri yang telah ia tempuh sebelumnya, dan menjadi salah satu perjalanan kepausan terpanjang yang pernah ada, baik dari segi waktu lawatan maupun jarak yang ditempuh.
Bagi seorang Paus yang akan berusia 88 tahun pada bulan Desember mendatang, lawatan kali ini bukanlah sebuah pencapaian yang kecil. Paus Fransiskus, yang sempat menggunakan kursi roda dan kehilangan sebagian paru-parunya karena infeksi pernafasan saat masih muda, harus membatalkan perjalanan ke luar negeri terakhirnya ke Dubai pada November 2023 lalu atas perintah dokter.
Namun kali ini Paus Fransiskus tetap melanjutkan rencana perjalanannya. Lawatan ke Asia dan Oseania ini semula dijadwalkan pada tahun 2020, tetapi ditunda karena perebakan luas COVID-19. Dalam perjalanan kali ini pun, Paus membawa serta tim medisnya, yang terdiri dari seorang dokter dan dua perawat. Ia juga telah melakukan tindakan pencegahan kesehatan yang biasa dilakukan di lapangan. Secara khusus Paus menambahkan sekretaris pribadinya ke dalam delegasi tradisional Vatikan yang terdiri dari beberapa kardinal, uskup dan petugas keamanan.
Dengan menelusuri kembali langkah-langkah Yohanes Paulus, Fransiskus memperkuat pentingnya Asia bagi Gereja Katolik, salah satu dari sedikit tempat di mana gereja tumbuh dalam hal jumlah jemaat dan panggilan religius.
Indonesia
Paus Fransiskus sangat menyukai sikap persaudaraan dan kerukunan antaragama, dan tidak ada simbol toleransi beragama yang lebih baik di awal perjalanannya selain “Terowongan Persahabatan” bawah tanah yang menghubungkan Masjid Istiqlal dengan Gereja Katedral Katolik di Indonesia.
Paus Fransiskus akan mengunjungi terowongan bawah tanah di pusat kota Jakarta bersama Imam Besar Masjid Istiqlal, Nasaruddin Umar. Keduanya kemudian akan menghadiri pertemuan lintas agama dan menandatangani sebuah deklarasi bersama.
Paus telah menjadikan peningkatan hubungan Kristen-Muslim sebagai prioritas, dan sering menggunakan perjalanan luar negerinya untuk mempromosikan agendanya agar para pemimpin agama bekerja untuk perdamaian dan toleransi, dan meninggalkan kekerasan atas nama Tuhan.








