| DN – Di seberang Atlantik dari Wall Street, ada pasar yang mungkin lebih menarik daripada ajang Olimpiade Paris. Komoditas apa yang menjadi fokus utamanya? Jawabannya adalah pin.
Paris sontak menjadi magnet bagi kolektor dari seluruh dunia yang datang dengan penuh semangat untuk memulai atau menambah koleksi pin Olimpiade sambil berbagi cerita.
“Manusia itu memang suka bertukar. Kita, manusia, ingin bertukar,” tegas Craig Robbins, seorang kolektor pin yang sangat bersemangat dari Los Angeles. “Dalam hidup, jika Anda tidak bisa bertukar, Anda akan mati,” tukasnya.
“Apakah Anda punya pin?” seorang barista Starbucks bertanya kepada setiap jurnalis yang datang untuk minum kopi di Palais des Congrès, pusat sarana pers Olimpiade.
Dari kedai-kedai kopi yang ramai hingga jalanan yang sepi, pertanyaan yang sama terus bergema di seluruh kota, karena relawan Olimpiade, atlet, pekerja media, pelayan, turis, dan lainnya semua mencari aksesori berharga yang sama.
“Anda benar-benar bisa merasakan kegilaan tahun ini,” kata kolektor pin asal Prancis, Laurent Facy.
Perburuan pin menjadi bagian tak terpisahkan dari ajang Olimpiade, yang tentu saja menambah keseruan lainnya. “Ini telah menjadi permainan; kami saling tukar-menukar seperti yang biasa kami lakukan di taman bermain,” katanya.
Awal Mula Kegilaan terhadap Pin
Tradisi tersebut bermula dari Olimpiade modern pertama, yang dihidupkan kembali oleh Pierre de Coubertin pada 1896. Di Athena, lencana dari bahan karton dikenakan oleh atlet, pelatih, dan reporter sebagai tanda pengenal.
Lebih dari satu abad kemudian, lencana-lencana tersebut berkembang dan berevolusi menjadi pin-pin yang sangat bentuknya sangat terperinci, rumit, dan terkadang bahkan menggunakan teknologi. Pin-pin tersebut disesuaikan dengan negara-negara peserta, organisasi berita, merek, dan bahkan individu.










