( DN ) – Para pemimpin Asia Tenggara dan Australia pada Rabu (6/3) memperingatkan untuk menghentikan tindakan yang “membahayakan perdamaian” di Laut China Selatan, menyusul konfrontasi baru antara Beijing dan Filipina di perairan yang disengketakan.
Ketegangan yang memuncak di koridor perdagangan itu terancam memuncak pekan ini, setelah kapal-kapal China di Kepulauan Spratly dituduh memburu kapal-kapal Filipina.
Beijing pada Rabu menuduh Amerika Serikat menggunakan Filipina sebagai “pion untuk menimbulkan masalah di Laut China Selatan” sewaktu permusuhan antara negara-negara Asia meningkat karena sengketa wilayah mereka.
China mengklaim hampir seluruh wilayah Laut China Selatan sebagai miliknya, mengabaikan preseden hukum dan klaim yang bersaing dari sejumlah negara Asia Tenggara.








