[DN) – Fika Juliana Putri, seorang penjaga toko berusia 19 tahun di Jakarta Timur, berencana untuk memilih mantan komandan jenderal Komando Pasukan Khusus (Kopassus) Prabowo Subianto pada pemilihan presiden pekan depan. Fika menyukai sosok Prabowo, katanya, karena dia tampak menggemaskan.
Versi kartun dari sosok Prabowo, yang dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan atau AI, muncul dalam sejumlah papan reklame di seluruh Nusantara. Tak hanya dalam bentuk reklame, kartun Prabowo juga diproduksi dalam bentuk kaus dan stiker dengan tagar #Prabowo yang ditonton sekitar 19 miliar kali di aplikasi TikTok.
Prabowo saat ini masih menjabat sebagai menteri pertahanan. Namun di dunia maya, avatar AI-nya justru memunculkan wajah berpipi chubby dengan jari memberi isyarat membentuk hati ala Korea. Ia terlihat memeluk erat kucing kesayangannya, Bobby. Avatar tersebut dibuat untuk menarik perhatian pemilih Generasi Z, mengingat sekitar separuh dari total 205 juta pemilih di Indonesia berusia di bawah 40 tahun.
Pemilu pada 14 Februari mendatang memberikan gambaran sekilas tentang bagaimana AI generatif dapat mengubah kampanye politik berskala besar di negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, kata para ahli.
Kartun yang dihasilkan oleh kecerdasan buatan ini menjadi titik fokus perubahan citra kampanye pilpres bagi Prabowo, yang saat ini berhasil memimpin sejumlah hasil jajak pendapat. Berbeda dengan citra nasionalis yang berapi-api sebagaimana dalam dua kali pencalonan presiden sebelumnya yang tidak berhasil, pada kali ini, pria berusia 72 tahun itu memperkenalkan slogan baru, yaitu “gemoy”, sebuah ungkapan dalam bahasa gaul yang berarti lucu dan menggemaskan.
“Saya pilih dia karena dia gemoy,” kata Putri, yang baru pertama kali menjadi pemilih. “Itulah alasan utamanya.”
Prabowo dan avatarnya yang diciptakan menggunakan teknologi dari perusahaan Amerika Serikat, Midjourney Inc, menjadi pionir dalam memimpin sejumlah besar kandidat dalam memanfaatkan alat kecerdasan buatan generatif untuk kampanye, memantau media sosial, mengembangkan chatbot interaktif, dan menargetkan pemilih.
Tim kampanye Prabowo dan Midjourney, yang berdasarkan pedomannya melarang digunakan untuk kampanye politik, tidak menanggapi permintaan komentar.
Harbath menyatakan terkejut bahwa alat AI telah diadopsi dalam kampanye di Indonesia dengan begitu cepat. Namun ia menegaskan masih terlalu dini untuk menilai dampak pemilu secara keseluruhan dari penggunaan teknologi yang “belum pernah terjadi sebelumnya dan inovatif” tersebut.
Reuters mewawancarai 26 orang untuk menilai penggunaan teknologi AI dalam kampanye di Indonesia, termasuk penasihat politik, pelobi, eksekutif teknologi, pakar, dan seniman yang menciptakan gambar AI generatif untuk para politisi. Beberapa orang berbicara dengan syarat anonim karena mereka tidak berwenang untuk berbicara kepada media.
Mereka menggambarkan vendor dan tim kampanye mendorong batasan pedoman yang dikeluarkan oleh penyedia seperti Midjourney dan pemimpin pasar AI generatif, OpenAI. Pemerintah Indonesia sendiri belum merumuskan aturan yang mengikat mengenai penggunaan alat AI.
Pada tahun ini sejumlah negara yang menjadi rumah bagi sepertiga populasi dunia menggelar pemilu, termasuk Amerika Serikat dan India. Pilpres di Indonesia merupakan ujian bagi OpenAI tentang bagaimana menegakkan kebijakannya, menurut tujuh pelobi politik dan pakar.
Banyak alat AI yang digunakan dalam pemilu di Indonesia didukung oleh OpenAI, kata sembilan staf kampanye senior kepada Reuters. Alat itu termasuk platform Prabowo, menurut koordinator tim digitalnya.
Pemilik ChatGPT, yang berbasis di San Francisco, bulan lalu mengumumkan aturan yang melarang penggunaannya untuk kampanye politik di tengah ketakutan global akan campur tangan AI dalam pemilu. Hal itu termasuk larangan membuat gambar orang sungguhan, termasuk politisi.










