• Whatsapp
Masyarakat berjalan melewati baliho Menteri Pertahanan dan calon Presiden Prabowo Subianto dan pasangannya Gibran Rakabuming Raka di Jakarta, 12 Januari 2024. (Foto: REUTERS/Willy Kurniawan)

Para pendukung penggunaan AI generatif dalam pemilu di Indonesia mengatakan bahwa AI telah memberikan akses kepada kandidat legislatif terhadap alat kampanye khusus yang seharusnya hanya diperuntukkan bagi kandidat utama yang memiliki anggaran lebih besar.

Penerapan AI yang berkelanjutan adalah hal yang wajar, kata Razi Thalib, yang memimpin tim digital calon presiden Anies Baswedan. “Mungkin hasil pemilu akan memberikan pembelajaran yang akan meningkatkan tingkat adopsi” di tempat lain, katanya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Jendral ‘Gemoy’

Prabowo, yang unggul 20 poin dalam jajak pendapat dan mendapat dukungan tersirat dari Presiden Joko Widodo, merupakan yang paling diuntungkan dari penggunaan AI generatif pada pemilihan kali ini. Ia memanfaatkannya untuk meningkatkan popularitasnya di kalangan Generasi Z.

Puluhan juta pemilih yang masih muda saat itu belum lahir ketika Prabowo diberhentikan dari Kopassus pada akhir 1990-an di tengah kontroversi tuduhan pelanggaran hak asasi manusia, yang selalu ia bantah.

Pendukung dapat memanfaatkan aplikasi kampanye Prabowo untuk menyertakan diri mereka dalam adegan yang dibuat oleh AI, misalnya, berkeliling di hutan bersama politisi yang mengenakan pakaian safari, dan kemudian membagikannya di media sosial.

“Ada yang bilang AI tidak bagus untuk politik, tapi AI membuat orang tertarik,” kata Adriansyah, seniman berusia 25 tahun. Ia bersama istrinya, Lusi Yulistia, ditugaskan untuk membuat karya seni Midjourney karya Prabowo dan pasangannya, Gibran Rakabuming Raka.

Survei pada Januari yang dilakukan oleh lembaga survei Indikator Politik menemukan bahwa Prabowo memperoleh lebih dari 60% suara dari Gen Z. Ia juga merupakan kandidat paling populer di kalangan milenial, dengan 42% dukungan mereka.

Kelompok relawan kampanye ini meluncurkan platform AI generatif PrabowoGibran.ai pada Desember untuk membantu 15.000 relawan “pasukan siber” melacak sentimen online dan membagikan karya seni yang dihasilkan AI di media sosial.

Koordinator nasional tim kampanye digital Prabowo-Gibran, Anthony Leong, mengatakan kepada Reuters bahwa platform tersebut menggunakan teknologi OpenAI dan perangkat lunak internal.

“Benar, aplikasi itu punya keterbatasan terkait konten politik,” kata Lusi merujuk pada Midjourney. “Intinya, saya hanya menggunakan aplikasi tersebut untuk mengubah karakter foto asli menjadi tema tertentu,” tukasnya.

AI di Mana-mana

Kampanye Anies pada Januari meluncurkan chatbot WhatsApp bertenaga OpenAI yang menjawab pertanyaan tentang kebijakannya.

Chatbot tersebut muncul setelah kubu Prabowo mengeluarkan chatbot serupa. Namun chatbot Prabowo dihentikan tak lama setelah peluncurannya pada Desember lalu karena secara keliru menyebut Pancasila memiliki tujuh sila, bukan lima. Dan kini chatbot tersebut belum diaktifkan kembali.

Tim kampanye Ganjar menerapkan dasbor yang menggunakan teknologi OpenAI dan menelusuri data online untuk memprediksi pokok pembicaraan dan memberikan peringatan media sosial secara real-time mengenai kandidat tersebut, kata penasihat Andi Widjajanto.

Salah satu contoh kontroversial penggunaan AI muncul pada Januari, ketika Partai Golkar, yang mendukung Prabowo, merilis video “deepfake” yang menampilkan mendiang mantan presiden Suharto yang mendesak para pemilih untuk mendukung kandidatnya. Klip yang berisi pesan kampanye ditandai sebagai buatan AI.

Tim Advokasi Peduli Pemilu (TAPP), sebuah organisasi nirlaba yang berbasis di Jakarta, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa video tersebut, yang masih beredar online, menunjukkan potensi manipulasi pemilih oleh AI.

Dara Nasution, pejabat tinggi digital Golkar, menyebut video tersebut sebagai “pesan positif”.

Gambar Suharto dibuat dengan Midjourney dan aplikasi pencitraan Leonardo AI, sementara suaranya dibuat menggunakan perangkat lunak kloning suara asal AS, ElevenLabs, yang dikombinasikan dengan teknologi internal, katanya.

Leonardo AI dan ElevenLabs tidak menjawab permintaan komentar.

Tiga pengamat pemilu mengatakan kepada Reuters bahwa mereka belum melihat AI digunakan untuk menyebarkan misinformasi dan disinformasi dalam skala besar selama pemilu.

“Disinformasi masih terbatas dibandingkan Pemilu 2019,” kata Aribowo Sasmito, salah satu pendiri organisasi pengecekan fakta Mafindo. [Red]#VOA

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *