OpenAI mengatakan bahwa pihaknya sedang menyelidiki chatbot dan alat politik yang diidentifikasi oleh Reuters di Indonesia menggunakan teknologinya. Tinjauan awal menemukan “tidak ada bukti” bahwa alat-alat tersebut digunakan dalam pemilu dan mereka berkomitmen terhadap transparansi dan meningkatkan informasi yang akurat.
Konsultan politik Yose Rizal mengatakan aplikasi Pemilu.AI yang ia kembangkan menggunakan perangkat lunak OpenAI GPT-4 dan 3.5 untuk menyusun strategi kampanye untuk wilayah lokal dan juga pidato kampanye.
Konsultan asal Indonesia itu mengaku telah menjual layanan aplikasi tersebut kepada 700 calon legislatif. Reuters tidak dapat mengonfirmasi penjualan tersebut secara independen.
Pemilu.AI mengumpulkan data demografi dan menelusuri media sosial dan situs berita, sehingga memungkinkannya menghasilkan pidato, slogan, dan konten media sosial yang disesuaikan dengan daerah pemilihan.
Para kandidat membuat daftar prioritas politik mereka dan memilih bagaimana mereka ingin digambarkan. Karakteristik yang paling diinginkan dari para politisi yang menggunakan Pemilu.AI di Indonesia, negara dengan mayoritas penduduk Muslim terbesar di dunia, adalah “rendah hati” dan “religius,” kata Rizal.
Ditanya tentang aturan OpenAI, Rizal mengatakan Pemilu.AI tidak terlibat “dalam pembuatan kampanye politik.” Ia menggambarkannya sebagai alat komunikasi untuk “mendukung proses pengambilan keputusan para kandidat.”
Berikutnya: India
Selanjutnya, Rizal berencana untuk membawa platform tersebut ke India sebelum pemilihan umum pada Mei. “Karena Indonesia lebih dulu dari AS dan India… pemilu kali ini adalah pemanasan,” ujarnya.
Dia mengatakan Pemilu.AI bekerja sama erat dengan Microsoft, yang menampung perusahaan tersebut pada layanan cloud Azure, untuk memastikan operasinya mematuhi peraturan. Microsoft, yang merupakan investor besar di OpenAI, mengatakan pihaknya tidak mengomentari keterlibatan pelanggan.
Rizal mengaku sedang menguji coba versi Pemilu.AI pada AI Google, setelah didekati oleh tim penjualannya. Google mengonfirmasi bahwa Pemilu.AI telah melakukan pekerjaan awal dengan menggunakan AI-nya dan menjadi pelanggan layanan cloud. Google mengatakan tidak ada batasan dalam menggunakan chatbot Bard untuk kampanye politik, selain larangan terhadap misinformasi.
Pemilu di Indonesia sedang menguji batasan dari apa yang dianggap oleh beberapa perusahaan AI sebagai kampanye politik.
Peraturan OpenAI, yang diperbarui pada 10 Januari, melarang penggunaan teknologinya untuk kampanye atau lobi politik apa pun, termasuk menghasilkan materi kampanye yang dipersonalisasi atau ditargetkan untuk demografi tertentu.










