Mbah Lamongan, yang bernama asli Rangga Hadi, merupakan Bupati Lamongan periode 1569-1607. Ia dikenal sebagai pemimpin yang ngemong masyarakat, menyebarkan ajaran agama, serta mengatur pemerintahan di wilayah Kenduruan. Sebagai santri Sunan Giri, ia meninggalkan warisan besar yang masih dihormati hingga kini.
Sementara itu, Mbah Sabilan dan Mbah Punuk juga memiliki peran penting dalam sejarah Lamongan. Mbah Sabilan merupakan panglima perang yang gugur sebagai sabilillah di medan perang pada era Adipati ke-3 Lamongan sekitar tahun 1640-1665. Sosoknya juga berkaitan dengan tradisi unik di Lamongan, yakni adat calon pengantin perempuan melamar calon pengantin laki-laki, yang berakar dari kisah cinta Dewi Andanwangi dan Andansari, putri Adipati Wirasaba.
Bupati Yuhronur Efendi menegaskan bahwa mengenang jasa para leluhur menjadi bagian dari memperkuat semangat kolaborasi dalam menghadapi tantangan pembangunan ke depan. Dengan mengusung tema “Harmoni Menuju Lamongan Berdaya Saing” dalam HJL ke-456, ia berharap semangat kebersamaan dan nilai-nilai luhur dapat terus dijaga dan diterapkan dalam pembangunan daerah.








