“Karena pagi sampai siang warga banyak yang bekerja, jadi pengecoran kami lakukan sore hingga malam. Setiap hari ada jadwal gotong royong, masing-masing 10 orang. Satu periode berlangsung tiga minggu, lalu berganti giliran,” ujarnya.
Warga yang berhalangan hadir tetap dilibatkan dengan tiga alternatif: mengirimkan pengganti, menukar jadwal, atau membayar denda Rp100.000. Dana tersebut kemudian digunakan untuk konsumsi seperti kopi dan makanan ringan serta kebutuhan operasional kegiatan.








