Bupati Tuban Aditya Halindra Faridzky, SE., yang hadir mengenakan jaket batik khas Tuban, menyampaikan apresiasi atas kemandirian Dekranasda dalam menyelenggarakan acara tanpa intervensi anggaran Pemkab. Ia menilai Teraswara sebagai bentuk nyata pemanfaatan potensi daerah secara kreatif.
“Teraswara adalah karya epik yang mengelaborasi warisan budaya dengan teknologi. Ini bukan hanya panggung seni, tapi juga jendela Tuban ke dunia luar,” ujar Mas Lindra.
Kehadiran mahasiswa asing dan komunitas luar daerah turut memperkuat posisi Tuban sebagai pusat kreativitas yang terbuka dan progresif. Mas Lindra berharap Teraswara menjadi pionir lahirnya kegiatan serupa yang mencintai dan mengharumkan nama Kabupaten Tuban.
Ketua Dekranasda Tuban, Aulia Hany Mustikasari, menjelaskan bahwa Teraswara bermakna “panggung suara”—sebuah ruang terbuka bagi kreativitas lokal untuk menggema ke ranah global. Ia menekankan bahwa Teraswara adalah detak jantung komunitas kreatif Tuban.
“Di sini, maestro bertemu imajinasi muda. Kita merayakan keberanian berinovasi dan ketekunan melestarikan,” tuturnya.
Teras Dolanan mengajak masyarakat mengenang permainan tradisional yang sarat nilai kebersamaan. Sementara Teras Isyarat menghadirkan ruang belajar Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo), sebagai wujud komitmen terhadap inklusivitas.








