Saat menginjak kelas tiga SMA, Crooks menjadi satu dari beberapa pelajar yang diberi penghargaan dalam bidang matematika dan sains, menurut liputan Tribune-Review pada saat itu.
Frederick Mach, kapten tim senapan SMA Bethel Park saat ini, menceritakan bahwa Crooks pernah mencoba bergabung dengan tim senapan sekolah, tapi ditolak karena keterampilan menembaknya dinilai buruk. Mach merupakan adik angkatan Crooks di sekolah.
Jason Kohler, yang mengaku satu SMA meski tidak pernah sekelas dengan Crooks, mengatakan bahwa Crooks dirundung di sekolah dan kerap duduk sendirian pada jam makan siang. Kohler mengatakan para pelajar lain mengejek pakaian yang dikenakannya, termasuk karena memakai pakaian berburu.
“Ia mengalami perundungan hampir setiap hari. Ia dikucilkan, dan Anda pasti tahu bagaimana anak-anak zaman sekarang,” kata Kohler kepada wartawan.
Crooks bekerja di sebuah panti wreda sebagai asisten gizi, yang pada umumnya bertugas menyiapkan makanan. Marcie Grimm, pengelola Pusat Perawatan dan Rehabilitas Terampil Bethel Park, mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa ia “terkejut dan sedih mengetahui keterlibatan Crooks.” Grimm menambahkan, Crooks memiliki rekam jejak yang bersih ketika dipekerjakan.









