Menurut cerita warga, situs tersebut ditemukan setelah seorang pencari kayu melihat sekumpulan banteng di sebuah gundukan tanah. Setelah diperiksa, ditemukan stupa berbentuk segi empat dengan simbol lintas kepercayaan—masjid, vihara, dan pura—yang menggambarkan harmoni antarumat.
“Tarian ini lahir dari kearifan lokal masyarakat Ngawi. Filosofinya tentang keguyuban dan toleransi,” tambah Imam.
Usai penampilan Reco Banteng, Musancab dilanjutkan dengan sidang organisasi serentak untuk 19 kecamatan. Ratusan kader dari pengurus anak cabang hingga ranting hadir memenuhi pendopo.








