Pidato Megawati Isyaratkan Sikap Oposisi PDIP?

  • Whatsapp
Ketua Umum Partai Demokrasi Perjuangan (PDI-P) Megawati Sukarnoputri saat berpidato dalam rakernas PDIP di Jakarta, 29 September 2023. (Foto: Willy Kurniawan)

“Sebagai partai yang memiliki sejarah panjang di dalam memperjuangkan demokrasi, kita tetap menempatkan penting adanya check and balance bahwa demokrasi memerlukan kontrol dan penyeimbang,” ujar Megawati.

Terkait sikap PDIP terhadap pemerintah ke depan, Megawati menyatakan masih akan mendengar suara dan masukan dari para kader. Isu ini, lanjutnya, menjadi prioritas dalam Rakernas Kelima PDIP.

Dalam pidatonya, Megawati juga sempat menyoroti soal kecurangan secara terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Kecurangan inilah, ujarnya, yang membuat kontestasi nasional tidak menjadi tempat rakyat untuk memiliki kedaulatannya.

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Megawati menyinggung intervensi kekuasaan dalam Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 Mahkamah Konstitusi. Putusan MK tersebut menetapkan persyaratan usia minimal bagi calon presiden/ wakil presiden yang dialternatifkan bagi calon yang pernah/sedang menduduki jabatan yang dipilih melalui Pemilu termasuk Pilkada.

Pengubahan aturan ini memungkinkan putra Jokowi, Gibran Rakabuming Raka untuk memjadi cawapres Prabowo.

Presiden terpilih Prabowo Subianto berbincang dengan sejumlah politisi dari koalisi partai yang mendukungnya saat acara penetapan hasil pilpres 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, 24 April 2024. (Foto: Adek Berry/AFP)
Presiden terpilih Prabowo Subianto berbincang dengan sejumlah politisi dari koalisi partai yang mendukungnya saat acara penetapan hasil pilpres 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jakarta, 24 April 2024. (Foto: Adek Berry/AFP)

Megawati juga berbicara soal pemimpin otoriter populis. Berpijak dari pemikiran seorang pemikir kebhinekaan bernama Sukidi, Megawati menyebut belakangan terjadi anomali dalam demokrasi di Indonesia yang melahirkan kepemimpinan paradoks dan otoritarian.

“Terjadinya anomali demokrasi, secara gamblang dijelaskan oleh Dr. Sukidi, seorang pemikir kebhinekaan yang disegani. Sosok cendikiawan ini menjelaskan fenomena kepemimpinan pradoks yang memadukan populisme dan Machiavelli, hingga lahirnya watak pemimpin authoritarian populism (otoriter populis),”ungkap Megawati.

Dalam karakter kepemimpinan yang seperti itu, tambahnya, hukum dijadikan pembenaran atas tindakan yang sejatinya tidak memenuhi kaidah demokrasi. Solusi untuk menyelesaikan anomali dalam demokrasi bukan mencabut hak rakyat melainkan menerapkan suara rakyat merupakan suara Tuhan sehingga perlu dihargai.

Peneliti Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Wasisto Raharjo, Jati menilai pidato Megawati dalam pembukaan Rakernas PDIP mengisyaratkan sikap oposisi PDIP dalam pemerintahan Prabowo-Gibran. Hal itu terindikasi dengan berulangnya Megawati menyebut makna “check and balance” dalam pidatonya. Terlebih Megawati juga menyinggung soal pemerintahan populis otoritarian.

“Dari dua indikasi awal sudah menunjukan arah politik secara simbolis PDIP mau ke oposisi. Cuma yang perlu kita lihat adalah sikap kolektif. Apakah pernyataan personal dari ibu ketum akan menjadi sikap kolektif partai, karena di sini dinamika masih berkembang,” ujarnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *