“Antama Balla adalah ajaran tentang menghargai sesama dan memperkuat jalinan sosial. Ini harus terus dijaga, karena budaya adalah pondasi kepribadian kita sebagai orang Makassar,” ujarnya.
Antusiasme masyarakat, terutama kalangan muda, menjadi energi utama dalam menghidupkan kembali ritual sederhana namun bermakna ini. Menurut penanggung jawab kegiatan, Fatahuddin Lewa, keberlanjutan tradisi budaya ada di tangan generasi sekarang.
“Ini lebih dari sekadar tradisi, ini tentang membangun ruang kebersamaan yang hangat dan inklusif. Kami ingin tunjukkan bahwa budaya bukan milik masa lalu, tapi bagian dari masa depan,” jelasnya.








