Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 2.000 telur rebus dibagikan secara gratis kepada masyarakat. Anak-anak sekolah dasar turut dilibatkan dalam kegiatan edukasi mengenai manfaat mengonsumsi produk peternakan.
“Tidak hanya telur, masyarakat juga diperkenalkan dengan berbagai produk hasil peternakan, mulai dari telur asin, olahan daging, abon hingga susu,” ungkap Tutik.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkenalkan berbagai potensi peternakan Kabupaten Kediri sekaligus memberikan apresiasi kepada para peternak yang selama ini berperan menjaga populasi sapi dan mempertahankan tradisi cikar.
Sejumlah wilayah di Kabupaten Kediri dikenal sebagai kantong keberadaan cikar. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi dua wilayah dengan jumlah peserta cukup banyak, masing-masing sekitar 10 hingga 11 peserta.
Selain menjadi tontonan masyarakat, Parade Cikar 2026 membawa pesan bahwa pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi.
Cikar yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat pedesaan kini kembali dihadirkan sebagai bagian dari kegiatan budaya. Di sisi lain, keberadaan sapi dan para peternak menjadi pengingat bahwa sektor peternakan memiliki potensi ekonomi yang besar apabila dikembangkan secara berkelanjutan.
Penyerahan penghargaan kepada para juara Parade Cikar 2026 yang berlangsung di kawasan Simpang Lima Gumul (SLG) semakin melengkapi rangkaian kegiatan tersebut.
Melalui parade ini, Pemkab Kediri berharap tradisi cikar tetap lestari, sementara sektor peternakan terus berkembang menjadi salah satu sumber penghidupan, ketahanan pangan dan kemakmuran masyarakat.








