Lebih lanjut, Andriko menekankan, terdapat lima langkah promosi yang terus dimasifkan yakni, konsumsi pangan B2SA dengan pangan lokal sebagai andalan, isi piringku, food weste atau membuang makanan, belanja bijak belanja secukupnya, dan zero new stunting.
“Yang kita launching hari ini mudah-mudahan dapat kita perluas, jadi kalau di Lamongan sudah menggerakkan BUMN, BUMD dan perusahaan (program 1-10-100) untuk juga melakukan hal yang sama, ini harus kita apresiasi karena ini bentuk replikasi yang cerdas, agar semua pelaku usaha juga punya kepentingan mengangkat anak-anak kita yang sebenarnya bukan kurang makan tapi karena pola asuh yang belum baik sehingga menyebabkan dia kurang gizi,” imbuh Andriko.
Andriko menceritakan, saat ini terdapat berbagai tantangan yang dihadapi dalam pangan nasional, mulai dari laju fungsi lahan pertanian, alih profesi pertanian generasi muda, diversifikasi (penganeragaman) pangan, perubahan iklim karena meningkatnya suhu yang berakibat pada kegagalan panen, hingga lainnya.








