Ia menilai, koperasi yang dipaksa beroperasi dalam skala besar tanpa perencanaan matang justru berisiko menimbulkan kerugian — bukan hanya bagi anggota, tetapi juga bagi negara jika fasilitas pemerintah tidak dimanfaatkan secara optimal. “Risiko kerugian tinggi jika modal dan SDM belum siap. Jangan sampai negara rugi karena tergesa-gesa,” tandasnya.
Thamrin menekankan bahwa koperasi sejatinya adalah wadah pembelajaran ekonomi rakyat. Ia mendorong agar pengurus Kopdes Merah Putih memulai dari kegiatan usaha kecil yang relevan dengan kebutuhan lokal — seperti pengolahan hasil pertanian, perdagangan bahan pokok, atau jasa simpan pinjam sederhana. “Belajar sambil berjalan, dan bertahap mengembangkan usaha. Dengan pendekatan ini, koperasi bisa tumbuh sehat dan memberi manfaat nyata bagi ekonomi desa,” katanya.







