Dalam kunjungan tersebut, rombongan Lamongan meninjau teknologi landfill mining yang telah diterapkan Gresik. Teknologi ini dinilai efektif dalam mengurangi volume sampah. Bupati Yani menegaskan kesiapan Gresik untuk berkolaborasi dalam sistem pengelolaan sampah berkelanjutan berbasis teknologi. Ia menyebut kerja sama lintas daerah—Surabaya, Sidoarjo, Gresik, dan Lamongan—akan memperkuat skema PSEL, di mana energi listrik hasil olahan sampah akan dibeli oleh PLN sebagai bagian dari pengembangan energi baru terbarukan.
“Potensi sampah dari Gresik mencapai 250 ton per hari, sedangkan Lamongan sekitar 100 ton per hari. Jika dikelola bersama, ini menjadi kekuatan besar,” ujar Bupati Yani, Rabu (8/4).
Bupati Lamongan, Yuhronur Efendi, mengapresiasi langkah Gresik yang dinilai berhasil menghadirkan sistem pengelolaan sampah modern. Ia menyoroti inovasi pengolahan RDF (Refuse Derived Fuel) hingga pemanfaatan sisa makanan menjadi pakan ternak, burung, dan ikan. Menurutnya, inovasi tersebut bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan TPA di Lamongan.
“Kami akan tindak lanjuti melalui kerja sama atau MoU. Pengelolaan sampah bukan hanya tanggung jawab satu daerah, melainkan gerakan bersama demi masa depan lingkungan,” tegasnya.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Gresik, Sri Subaidah, menambahkan bahwa kolaborasi lintas daerah menjadi kunci sukses pengelolaan sampah modern. Ia menyebut capaian pengelolaan sampah di Jawa Timur telah mencapai 52,7 persen, tertinggi secara nasional.








