Kampanye Terakhir, Prabowo Tegaskan Tekad untuk Hapus Kemiskinan

  • Whatsapp
Para pendukung calon presiden Prabowo Subianto dan calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka dalam kampanye akbar di Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2024. (Foto: Adek Berry/AFP)

“Seru aja pengen lihat gemoy, lucu. Gak tahu programnya, tahunya susu gratis biar gemoy,” ujar Nina.

Calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) tiba di lokasi kampanye akbar Stadion Gelora Bung Karno bersama istrinya dengan mengendarai motor listrik, Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2024. (Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP)
Calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka (tengah) tiba di lokasi kampanye akbar Stadion Gelora Bung Karno bersama istrinya dengan mengendarai motor listrik, Jakarta, Sabtu, 10 Februari 2024. (Foto: Yasuyoshi Chiba/AFP)

Tak Beberkan Program Kerja

Bacaan Lainnya
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Pengamat Politik dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lili Romli menilai pidato Prabowo di kampanye akbar bersifat normatif.

Lili menilai kampanye terakhir ini sedianya menjadi ajang bagi Prabowo-Gibran untuk memerinci program-program yang akan dijalankan. Ia mencontohkan pernyataan Prabowo soal “mengentaskan kemiskinan” yang tidak diberi penjabaran : bagaimana caranya.

Sementara soal program makan siang gratis, Lili menyitir ucapan Prabowo yang menurutnya terkesan otoriter.

“Ia (Prabowo) mengatakan kita harus memberikan makan siang gratis untuk anak-anak, menteri-menteri yang gak setuju jangan bergabung dengan saya! Dia (Prabowo) sudah galak juga. Jadi dia nanti menggambarkan semua harus satu komando dengan dia. Nampaknya tidak boleh ada yang beda pendapat ketika dia memimpin menjadi presiden. Menteri-menterinya harus sependapat dengan dia, kalau tidak silahkan keluar. Dia kan sudah mengancam seperti itu, kayaknya tidak ada dialog nanti,” ujar Lili.

Lebih jauh pakar politik ini menyayangkan sikap masyarakat yang lebih senang “joget” ketimbang mendengar program-program konkret, padahal kampanye merupakan bagian dari pendidikan politik. Keberhasilan tim Prabowo-Gibran menghipnotis warga dengan “joget Gemoy,” dinilai menunjukkan masih rendahnya tingkat kesadaran politik warga Indonesia. [Red]#VOA