“Kita punya Duta Besar dan KBRI yang dapat memfasilitasi kerja sama antarnegara. Jangan berpikir bahwa kita bergerak sendiri. Sinergi adalah kunci agar pengusaha bisa menemukan solusi terbaik,” tambahnya.
Meskipun ekspor Kaltara ke AS tidak terlalu besar, beberapa sektor tetap terdampak oleh kebijakan ini, terutama industri batu bara. Effendy menyarankan agar pengusaha di sektor ini mulai mengalihkan fokus ke pasar Eropa yang memiliki permintaan tinggi.
“Batu bara selalu memiliki banyak peminat, tetapi karena keterikatan kontrak, kita jarang membuka peluang baru. Kami menganjurkan agar para pengusaha segera menjajaki pasar alternatif, termasuk Eropa,” jelasnya.
Selain batu bara, produk ekspor yang paling terdampak oleh tarif baru ini adalah sektor padat karya seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur. Harga barang yang meningkat akibat pajak tinggi dikhawatirkan akan mengurangi permintaan dari pasar AS.








