Jelas Langgar Etika dan Hukum, Joki Skripsi Makin Dianggap Wajar
Akun @jokiskripsionline sempat mengatakan, “Kita kasih pendampingan lewat Zoom atau datang langsung ke rumah.” Setelah itu, admin akun tersebut tidak responsif. Akunnya tidak dapat ditemukan per hari Minggu (28/7).
Akun @jokitugas.gazz, yang poster “Melayani Joki Tugas Kedokteran”-nya ditampilkan Abigail untuk dikritisi di Instagram story-nya, sempat berinteraksi dengan VOA untuk menanyakan kritik yang disampaikan warganet terhadap jasa yang ditawarkannya, sebelum berhenti menanggapi pertanyaan VOA. Poster itu, serta beberapa postingan lain di akunnya, tidak dapat ditemukan lagi saat berita ini diturunkan.
Sementara akun @jokitugas_jogja langsung menolak diwawancara, “Maaf belum bisa ya.”
Sedangkan tiga akun lainnya sama sekali tidak menanggapi pesan VOA, dan salah satunya, @pembimbingskripsi.id, sudah tidak dapat ditemukan di Instagram saat berita ini terbit.
Tidak Berintegritas
Praktik joki tugas atau skripsi sudah menjadi rahasia umum, tapi dulu aksi itu masih kental dianggap aib, kata pemerhati sekaligus konsultan pendidikan Ina Liem.
“Paling nggak bedanya dulu itu orang yang pakai joki pasti malu, disembunyi-sembunyikan, karena tahu sebetulnya tidak berintegritas,” ungkap Ina kepada VOA melalui sambungan telepon (24/7).
Pembiaran dan kegagalan pendidikan karakter menjadi penyebab utama merajalelanya joki skripsi, katanya. Mental menerabas, di mana untuk mendapatkan sesuatu seseorang menggunakan jalan pintas, masih sering ia temukan, termasuk dalam praktik “jual-beli kursi” di sekolah favorit, tutur Ina. Keterpaparan secara terus-menerus terhadap praktik curang dapat membuat aksi culas lama-kelamaan terasa lumrah.
Selain itu, sistem pendidikan yang berorientasi pada capaian nilai alih-alih penguasaan ilmu turut memperburuk masalah.
“Pada prinsipnya kan di dunia kerja itu pemberi kerja tidak peduli apa yang kamu ketahui, mereka hanya peduli pada apa yang bisa kamu lakukan. Jadi, percuma hanya nilainya tinggi, tapi begitu diterapkan di dunia kerja dia nggak paham,” lanjut Ina.
Skripsi atau tugas akhir pada esensinya menjadi ajang bagi mahasiswa untuk membuktikan kompetensinya atas bidang yang ia tekuni, dengan mendesmonstrasikan kecakapan menganalisis masalah, menguji teori yang dipelajari, berpikir kreatif, hingga menyusun dan mengomunikasikan gagasan serta solusi, kata pakar pendidikan Totok Soefijanto.
“Nilai yang lebih penting menurut saya adalah etos untuk menghargai kerja keras dan kejujuran, itu sebenarnya,” ungkap Totok kepada VOA, Jumat (26/7). “Kalau nilai kejujuran ini diterabas, misalnya dengan joki tadi, itu kan seperti dia tidak menampilkan dirinya sesuai dengan apa yang ada, kan? […] Memalsukan kompetensi dirinya, memalsukan kemampuan dirinya.”
Langgar Etika dan Hukum
Abigail “mencolek” akun X Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi setelah videonya viral. Akun @Kemdikbud_RI pun lantas membalasnya dengan menyatakan bahwa “Civitas academica dilarang menggunakan joki (jasa orang lain) untuk menyelesaikan tugas dan karya ilmiah karena melanggar etika dan hukum.”









