Pengamat Hubungan Internasional dari Universitas Indonesia Agung Nurwijoyo menjelaskan usulan Trump tersebut kontraproduktif terhadap ide solusi dua negara yang selama ini digadang-gadang oleh Amerika. Dia menekankan gagasan merelokasi warga Gaza ke negara lain tidak akan menyelesaikan masalah.
“Saya rasa tetap diprioritaskan mencari wilayah-wilayah yang sekiranya masih bisa ditinggali (di Gaza) yang sifatnya sementara. Kalau memang Gaza benar-benar sudah tidak ada tempat yang layak ditempati sementara, tentu adanya aturan yang memberikan jaminan hal untuk kembali buat orang-orang (Gaza) yang sementara mengungsi ini,” ujarnya.
Agung menyatakan relokasi warga Gaza ke negara lain tidak dibutuhkan jika proses rekonstruksi dilakukan secara bertahap, misalnya di wilayah Utara Gaza lebih dulu. Sehingga wilayah lainnya di Gaza bisa dijadikan lokasi pengungsian sementara.
“Ternyata ini nyambung dengan kondisi sekarang. Kenapa Trump akhirnya membuka wacana itu? Kelihatannya operasi militer besar-besaran melawan Hamas akan terus berlanjut. Karena kalau masih banyak warga (sipil), dampak kepada (warga) sipil akan besar. Kelihatannya Trump mencoba untuk mengurangi warga Gaza supaya mereka dengan mudah melacak dan mencari pasukan Hamas,” katanya.
Menurut Hasbi, rencana Trump untuk merelokasi warga Gaza menunjukkan dia berada di posisi mendukung Israel. Dia menyebutkan ide Trump untuk mengosongkan Gaza sama seperti keinginan Israel sebelumnya agar bisa menguasai wilayah seluas 365 kilometer persegi tersebut.
Hamas melalui pernyataan tertulis mengecam keras pernyataan Trump.








