Namun, ia mengklaim, justru sebagian besar pengurus PWNU di Indonesia tetap menjalin komunikasi dengan pihak presidium dan mendorongnya adanya MLB.
“Bahwa lebih dari 70 persen PWNU yang hadir di acara [Rakor PBNU dengan PWNU] kemarin itu tetap komunikasi dengan kami, komunikasi tertutup. Karena memang fakta-fakta terkait pelanggaran ADRT maupun degradasi kinerja organisasi sangat terasa,” kata dia.
Lebih, lanjut, meskipun ada puhak yang pesimistis terhadap MLB ini, Gus Salam tetao yakin MLB akan bisa terjadi melihat dinamika organisasi saat ini.
“Yang namanya dinamika itu pasti akan ada sejarah, entah dulu, sekarang, atau masa depan. Jadi kalau memberikan sebuah kesimpulan [MLB] pasti tidak akan pernah terjadi, menurut saya kurang tepat,” katanya.
“Apalagi sebuah itu dinamika itu kan pasti sangat dinamis apapun juga akan terjadi kalau memang situasi kondisi menghendaki. Bahwa selama ini sejarah dulu memang ada namanya dinamika MLB tapi tidak sempat terjadi memang iya. Tapu tidak menutup kemungkinan bahwa kali inilah terjadi MLB akan terjadi,” pungkasnya.
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf dan Sekjennya Gus Saifullah Yusuf, sebelumnya mengumpulkan jajaran PWNU se-Indonesia di Surabaya. Mereka menggelar rakor di Hotel Bumi, Surabaya, Sabtu (30/11).
Salah satu yang dibahas dalom rakor itu ialah penolakan terhadap Muktamar Luar Biasa (MLB) PBNU, yang digaungkan beberapa pihak dan mulai rencannya mulai digulirkan Desember 2024 ini.
Dalam forum itu, kata Gus Yahya, para pengurus PWNU se-Indonesia sepakat menolak rencana MLB. Ia sendiri mengaku tak paham apa urgensi sehingga MLB itu terus didorong segelintir kelompok.








