Keterangan tertulis dari tim JK seusai pertemuan di Doha itu menyatakan bahwa “Ismail Haniyeh sangat memuji posisi dan peran diplomatik Republik Indonesia, pemberian bantuan kemanusiaan kepada rakyat di Gaza, kontribusi dalam merawat korban luka, gerakan kerakyatan dalam demonstrasi, dan solidaritas luas terhadap rakyat Palestina.”
Namun, keterangan tim JK tida menyebut perincian lain soal tanggapan Haniyeh terhadap seruan JK untuk menunjukkan persatuan dengan Fatah, satu faksi berpengaruh lain di Palestina.
Lawatan Kemanusiaan: Patani, Kabul, Doha
Pertemuan Jusuf Kalla dengan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, merupakan bagian dari perjalanan misi perdamaiannya dari Patani, kota di bagian selatan Thailand; Kabul, ibu kota Afghanistan, dan kini Doha, ibu kota Qatar.
Meskipun memiliki misi besar yang sama, yaitu kemanusiaan, masalah yang dibahas JK dengan para pemimpin kelompok militan yang ditemuinya berbeda-beda. Misalnya, saat bertemu Menteri Pertahanan Afghanistan Mullah Mohammad Yaqoob Mujahid awal Juni lalu, JK fokus mendorong pemberdayaan kaum perempuan dan persamaan hak untuk mendapat pendidikan bagi perempuan dan anak perempuan. Sementara saat bertemu pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh di Doha, JK menyerukan kesepahaman antara Hamas dan Fatah, serta upaya gencatan senjata dengan Israel.
Pertemuan Jusuf Kalla dengan pemimpin politik Hamas, Ismail Haniyeh, di Doha ini hanya berselang tiga bulan dari pertemuannya dengan salah seorang petinggi lain kelompok militan itu, Dr. Bassem Naim di pinggiran Kuala Lumpur, Malaysia. Dalam pertemuan 5 Mei lalu Dr. Bassem Naim – yang disebut-sebut sebagai Menteri Kesehatan Palestina di Jalur Gaza – meminta bantuan JK untuk menjembatani perundingan damai antara Hamas dan Israel.









