Di sisi lain, solidaritas warga menjadi modal sosial yang nyata. Gotong royong membersihkan rumah, berbagi makanan, dan menjaga anak-anak di posko darurat menunjukkan bahwa masyarakat masih bertahan dengan kekuatan kolektif.
Banjir Bengawan Jero adalah alarm lama yang terus berbunyi. Pertanyaannya: mengapa hingga kini belum ada solusi permanen? Publik menuntut lebih dari sekadar respons darurat. Mereka menginginkan:
- Normalisasi aliran sungai dan perbaikan pintu air.
- Pembangunan tanggul dan sistem polder yang berkelanjutan.
- Skema kompensasi ekonomi bagi petani tambak yang kehilangan mata pencaharian.
- Edukasi kesiapsiagaan banjir agar masyarakat tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah.
Luapan Bengawan Jero kali ini kembali menegaskan bahwa banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan persoalan struktural yang membutuhkan keberanian politik dan konsistensi kebijakan. Ribuan rumah dan tambak yang tenggelam adalah simbol rapuhnya sistem pengendalian banjir di Lamongan.
Publik menunggu bukti, bukan janji. Apakah Bengawan Jero akan terus menjadi luka tahunan, atau akhirnya ditangani sebagai prioritas pembangunan jangka panjang? [NH/J2]








