BPBD bersama instansi terkait berupaya meminimalisir dampak dengan mengoptimalkan pompa air di titik-titik rawan, seperti Melik dan Kuro. Namun, tantangan utama muncul dari kondisi elevasi air. “Permukaan air Bengawan Jero lebih tinggi dibandingkan Kali Blawi, sehingga pintu air Kuro harus ditutup. Ini menghambat pembuangan air dari pemukiman,” jelas Naim.
Kondisi ini menunjukkan kompleksitas teknis dalam mengendalikan banjir di Bengawan Jero. Infrastruktur pengendali air yang ada belum mampu sepenuhnya menjawab tantangan hidrologi kawasan, terutama ketika curah hujan tinggi bertemu dengan aliran sungai besar seperti Bengawan Solo.
Selain kerugian materiil, banjir juga membawa risiko kesehatan. Air yang menggenang berhari-hari berpotensi memicu penyakit kulit, diare, hingga infeksi saluran pernapasan. BPBD Lamongan bersama Dinas Kesehatan telah mendirikan posko kesehatan gratis di setiap balai desa terdampak. “Warga yang merasakan keluhan bisa langsung mendatangi posko untuk mendapatkan penanganan,” tegas Naim.







