Menurut Ibau Ala, pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan momentum memperkuat hubungan bilateral di bidang sosial budaya, ekonomi, hingga pengelolaan kawasan perbatasan. “Kehadiran para pemangku kepentingan lintas negara menjadi peluang penting untuk memperkuat peran masyarakat adat dalam menjaga harmoni dan stabilitas kawasan perbatasan,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat Dayak di Indonesia dan Malaysia memiliki ikatan sejarah sebagai satu rumpun. Karena itu, Rakor ini juga menjadi ajang mempererat silaturahmi lintas batas. “Harapan kami, pertemuan ini menghasilkan kesepahaman bersama dalam mendorong pembangunan kawasan perbatasan yang berkelanjutan serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil seperti Apau Kayan,” jelasnya.








